Ada Cerita di Balik Cerita: Kanker, Operasi, dan BPJS

Saya mau berbagi cerita tentang kondisi yang baru-baru ini saya alami di dalam keluarga saya, tepatnya dialami oleh ayah saya. Ayah baru saja menjalani operasi pengangkatan kanker, dan puji Tuhan seluruh biaya operasinya ditanggung BPJS Kesehatan lewat produknya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

Sebagai latar belakang, anggota keluarga dari keluarga inti saya terdiri dari ayah, ibu, dan tiga orang anak perempuan, yaitu kakak saya, saya sendiri, dan adik saya. Tahun lalu, Ibu saya telah dipanggil oleh Tuhan setelah kurang lebih satu setengah tahun diketahui mengalami kondisi penyakit kanker yang disebut Multiple Myeloma, yaitu kanker pada plasma darah.

Awal Cerita

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya sekitar bulan Juli 2014 setelah Lebaran, ayah saya menemukan adanya benjolan pada kulitnya di dekat daerah selangkangan (yaitu di daerah skrotum). Ayah saya cukup sigap dan langsung berkonsultasi dengan dokter yang beliau kenal di kota tempat tinggal kami (Bogor) yaitu seorang dokter spesialis penyakit dalam yang juga sedang dalam proses mempelajari onkologi (bidang ilmu yang mempelajari tumor, kanker). Atas rekomendasi dokter tersebut, ayah melakukan proses biopsi, yaitu pengambilan sampel untuk kemudian diuji di laboratorium.

Saat menemukan benjolan tersebut, ayah saya santai saja dan tidak bercerita kepada anak-anaknya, yang semuanya bermukim di luar kota Bogor. Baru menjelang proses biopsi, ayah bercerita tentang kondisinya pada saya, yang langsung saya teruskan kepada kakak adik saya. Saya ikut menemani ayah pada waktu ke Rumah Sakit untuk melakukan biopsi, pada pertengahan bulan Agustus 2014, di Bogor.

Hasil biopsi, yang baru datang dua minggu setelahnya, menyatakan bahwa sampel bagian tubuh ayah adalah sel tumor ganas, tergolong kanker kulit (karsinoma), tetapi syukurnya tidak menyebar maupun berkembang. (Disclaimer= Harap diingat bahwa saya adalah orang awam yang tidak seratus persen memahami penyakit ini, jadi jika ada salah kata, silakan berikan komentar dan himbauan untuk saya revisi ya. ^^)

Rekomendasi Operasi

Dengan hasil lab di tangan, ayah kemudian datang ke Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), di Slipi, Jakarta untuk mencari second opinion. Berdasarkan informasi dari sejumlah kenalan di Cancer Information and Support Center atau CISC, ayah (dan dulu ibu saya) sudah tahu kalau setiap minggunya ada kegiatan hipnoterapi untuk para penderita kanker di Dharmais, yang dilakukan bersama dokter RSKD itu sendiri .

Nah, di kesempatan inilah, ayah mendapatkan rekomendasi dokter (tanpa pengecekan langsung, hanya melihat foto dan data hasil lab saja) untuk melakukan operasi, karena sel kankernya tidak akan efektif untuk dikemoterapi maupun diradiasi. Dikatakan juga, sebaiknya operasi dilakukan sesegera mungkin, mumpung baru terdeteksi dan saat itu masih dikategorikan tidak menyebar. Hasil dari pertemuan itu, ayah ceritakan juga kepada kami, anak-anaknya.

Biaya operasi dari mana?

Jujur, otak saya langsung melilit dan hati saya menggalau gundah mendengar berita itu. Berapa banyak biaya yang harus kami siapkan? Saya memang punya tabungan untuk Dana Kesehatan ayah (dan keluarga), tapi apakah itu cukup? Kantor saya jelas tidak akan dapat membantu banyak karena hanya saya pribadi yang terhitung tanggungan program kesehatan kantor, ayah saya tidak terhitung.

Ternyata, dari dokter yang sama, ayah dianjurkan untuk mengurus semua keperluan operasi kanker dengan memanfaatkan fasilitas JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dari  BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan). Saya memang sudah pernah mendengar tentang BPJS, tapi tidak tahu secara mendetail. Mendengar anjuran dokter tersebut, di hari yang sama juga ayah langsung mencari tahu tentang proses mendaftar BPJS di kota Bogor.

Mendaftar BPJS

Karena kesibukan saya (bekerja) di Jakarta, sementara JKN dari BPJS Kesehatan ini harus diurus sesuai dengan data diri dalam KTP (yaitu KTP Bogor), ayah saya berinisiatif untuk mengurus semuanya sendiri. Ayah saya memang ayah yang hebat dan serba mandiri :) (meski malu juga sih kalau cerita jujur gini, saya merasa kurang banget membantu langsung ayah saya.. huhu).

Kunjungan ayah ke RSK Dharmais untuk hipnoterapi itu dilakukan pada suatu hari Kamis. Keesokan harinya, jadi hari Jumat, pagi-pagi banget ayah langsung ke Bank yang menjadi ‘rekanan’ BPJS. Gak tanggung-tanggung, jam 04.30 pagi ayah sudah jalan untuk ambil antrian, dan itu sudah dapat sekitar nomor 8. Banknya sendiri baru buka jam 08.00 pagi. Memang mengambil nomor antrian sepagi mungkin, adalah kunci.

Proses yang ayah tempuh kira-kira sebagai berikut:

  1. Mengisi formulir pendaftaran yang didapat saat mengantri di bank. Kelengkapan dokumen yang dibutuhkan: fotokopi KTP, Kartu Keluarga, dan foto diri (pasfoto).
  2. Setelah formulir dimasukkan di bank, ayah langsung mendapatkan nomor virtual account.
  3. Melakukan penyetoran pertama ke virtual account, langsung di bank tersebut.
  4. Selesai menyetor/membayar, ayah pergi menuju Kantor Pusat BPJS di Bogor untuk mengambil kartu anggota. Ini langsung dapat dilakukan pada hari yang sama.
  5. Kartu anggota selesai diambil, resmi sudah terdaftar menjadi anggota BPJS :)
    Kira-kira jam 13.00 siang ayah sudah memiliki kartu tersebut di tangan.

Untuk produk JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dari BPJS Kesehatan, ada tiga pilihan kelas, yaitu Kelas III, II dan I, dengan besar iuran yang berbeda-beda, tapi untungnya tidak terlalu mahal. Silakan dilihat di sini besarannya. Ayah saya memilih untuk ikut BPJS JKN Kelas I, iurannya Rp 59.500,- per bulan.

Jadi untuk mengurus pendaftaran JKN di BPJS, berdasarkan pengalaman ayah di Bogor, “cukup” dilakukan dalam satu hari, selama mendapat nomor antrian yang awal, dan untuk itu, harus berusaha mengambil nomor antrian pagi-pagi banget. 

Lalu bagaimana proses mengurus biaya operasi ayah? Sebelum itu terjadi, harus melalui proses administrasi dulu sesuai prosedur yang ditentukan BPJS.

Mengurus Dokumen Rujukan

Kesokan hari setelah kartu anggota JKN dari BPJS Kesehatan jadi, Sabtu pagi-pagi banget (jam 04.30 lagi) ayah mengambil nomor antrian di RSUD. Iya, rupanya biasanya di RS pun akan ada nomor antrian khusus pasien BPJS yang perlu diambil. Hal ini bisa berbeda-beda di tiap daerah sih. Nah, tapi ayah tidak langsung konsultasi di RSUD. Soalnya ada prosedur lain dulu.

Setelah punya nomor antrian, di Sabtu pagi yang sama, begitu Puskesmas di wilayah kecamatan buka, ayah mendaftar untuk diperiksa petugas Puskesmas, dan minta rujukan ke RSUD setempat (yang nomor antriannya sudah diambil). Di Puskesmas ini antriannya normal dan tidak perlu ambil nomer pagi-pagi. Karena kasus ayah adalah penyakit kanker, tentunya permohonan rujukan langsung diproses. Sebaiknya sudah punya nama dokter yang dituju di RSUD.

Setelah dari Puskesmas, sore harinya ayah ke RSUD dan kemudian mengantri bertemu dokter (karena memang praktek sore). Dari dokter tersebut, lalu minta surat rujukan untuk ke Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), Slipi, dengan nama dokter urolog onkolog yang sudah ayah ketahui. Dokter di RSUD juga kooperatif dan langsung membuatkan surat rujukan sesuai permintaan.

Nah, ayah langsung menuju ke RSKD hari Senin berikutnya, sesuai dengan hari praktek dokter yang terkait untuk BPJS. Akan tetapi ternyata ada dokumen yang kurang, yaitu Surat Rujukan dari Kantor Pusat BPJS Bogor, karena penanganan kasus penyakit ayah akan dilakukan lintas provinsi. Maka hari itu juga ayah kembali ke Bogor dan mengurus surat rujukan lintas provinsi dari Kantor Pusat BPJS Bogor. Barulah besoknya, hari Selasa, ayah bisa kembali ke Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD).

Kembali ke Rumah Sakit Kanker Dharmais

Di RSKD, kembali harus mengambil nomor antrian pagi-pagi banget (idealnya berangkat jam 4 pagi dari Bogor). Kalau “kesiangan” baru berangkat jam 5 pagi, akan kena macet panjang di Jagorawi. Nomor antrian ini berlaku untuk mendapatkan Surat Elegibilitas Peserta (SEP), yaitu surat penanda kalau pasien berhak ditanggung BPJS, jadi dibebaskan dari biaya. SEP ini dipakai untuk konsultasi ke dokter.

Setelah bertemu dan diperiksa langsung oleh dokter, barulah dokter mengeluarkan estimasi tindakan dan obat apa saja yang diperlukan untuk operasi pengangkatan kanker ayah. Estimasi ini termasuk sekian malam menginap di RS, obat-obatan standar yang diperlukan saat operasi dan pasca operasi, tindakan operasi dan lain-lain. Estimasi ini lalu ayah bawa di kasir untuk ditafsirkan menjadi angka total biaya. Lalu estimasi total biaya harus dibawa ke loket khusus mengurus JKN dari BPJS di RSKD untuk mendapatkan persetujuan BPJS. RSK Dharmais memang memiliki loket khusus untuk BPJS, dan dapat melakukan approval di tempat (tidak perlu ke kantor BPJS lagi, syukurnya). Untuk operasi ayah, estimasi biaya total mencapai tiga puluh empat juta rupiah, dan BPJS menerima dan menyetujuinya, puji Tuhan!

Penantian Untuk Rawat Inap

Setelah disetujui, lalu mulailah masa penantian untuk ‘kapan bisa masuk RS’ yang tidak tentu lamanya. Penyebabnya adalah karena slot kamar rawat inap di RSKD untuk pasien yang ditanggung JKN BPJS selalu penuh, jadi kapan ayah bisa operasi, tergantung kapan ada kamar yang kosong dulu supaya ayah bisa masuk opname. Jadwal operasi baru disesuaikan segera setelahnya. Total masa menunggu kami, kira-kira tiga minggu lamanya.

Pemberitahuan dari RSKD datang cukup tiba-tiba, yaitu pada hari Minggu, 21 September 2014 sekitar jam 09.00 pagi, lewat telepon. Ayah diminta untuk segera mendaftar masuk ke RSKD pada hari yang sama, siang hari itu juga. Pemberitahuan yang mendadak itu membuat rencana weekend harus berubah total deh. Untungnya ayah memang sudah siap sedia, sudah packing sebuah tas untuk dibawa ‘nginap’ di rumah sakit. Jadi Minggu siang itu juga ayah langsung ke Jakarta dan mendaftar masuk sebagai pasien rawat inap.

Rawat Inap sebelum Operasi

Di RSKD, ayah saya kembali mengurus SEP sebelum bisa masuk kamar. SEP ini diurus dengan mengantri (lagi) di loket JKN BPJS, tentunya. Kamar kelas I yang dihuni ayah, diperuntukkan untuk dua pasien, yang dibatasi oleh tirai. Ruangannya tidak jelek-jelek banget, kamar mandi cukup besar, ada lemari besar dan laci nakas untuk menyimpan barang-barang, dan ada sebuah kursi dan sebuah sofa untuk pendamping/penunggu.

Hari pertama masuk rumah sakit, belum dicek apa-apa. Lagipula hari Minggu sih ya (sepertinya dokter-dokter tidak beredar di hari Minggu). Barulah pada hari Senin dan Selasa setelahnya, ada kunjungan dan pemeriksaan dari dokter, dan ditetapkan kalau operasi akan di lakukan hari Kamis, tanggal 25 September 2014.

Sekedar tips, setelah ada SEP, apalagi untuk rawat inap, fotokopilah banyak-banyak! Karena akan terus diminta copy-nya, misalnya untuk menebus obat dan lain semacamnya. SEP ini sudah macam surat sakti saja, melancarkan jalan untuk pasien yang ditanggung JKN dari BPJS (jadi tidak perlu bayar apapun).

Selain dokter yang akan membedah ayah saya, yaitu dokter urolog onkolog, ternyata karena kanker ayah ada pada kulit, operasi ayah akan melibatkan dokter bedah plastik juga. Setelah diperiksa dokter, muncul estimasi baru yang perlu diurus lagi: dibawa ke kasir untuk diketahui total biayanya, dibawa ke loket JKN BPJS untuk kembali mendapatkan persetujuan/approval BPJS. Syukurnya dalam satu hari yang sama (kalau tidak salah hari Senin atau Selasa), persetujuan BPJS bisa didapat. Penambahan biaya untuk operasi plastik ini sekitar dua puluh juta lebih. (Terima kasih BPJS!)

Saya dan ayah saya
Saya bersama ayah, di ruang tempat rawat inap, hari pertama masuk rumah sakit. Ayah masih bisa jalan-jalan di dalam komplek RSKD :)

Selama dirawat inap, dari hari Senin sampai Rabu, ayah saya masih bisa jalan-jalan keliling dan ke samping rumah sakit untuk makan, atau lihat-lihat, atau bahkan belanja. Soalnya kanker yang dialami ayah, tidak sampai mengganggu aktivitasnya, bahkan tidak ada rasa nyeri atau sakit sekalipun. Jadilah tiga hari pertama di rumah sakit itu seperti menginap di “hotel” saja, tapi harus pakai gelang penanda pasien rumah sakit, hehe..

Hari Operasi

Menjelang hari operasi, malam sebelumnya, yaitu Rabu, ayah diminta untuk puasa sebelum operasi. Operasi akan dilakukan pagi hari, jadi puasa dimulai dari jam 12 tengah malam, tidak boleh makan apa-apa lagi, dan sejak jam 3 pagi tidak boleh minum apapun. Memang rupanya prosedur puasa untuk operasi seperti ini wajar adanya, bahkan biasanya durasi puasa bisa jauh lebih panjang lagi.

Sekitar jam 07.20 pagi, ayah sudah siap-siap dijemput suster dengan kursi roda. Karena akan kembali ke kamar yang sama, barang-barang cukup ditaruh di lemari, dan dikunci. Dari kamar ayah yang ada di lantai 8, saya ikut mengiring ayah dan suster ke lantai 3, lantai tempat operasi. Setelah ayah disiapkan (ganti baju lagi) untuk masuk ke ruang operasi, dokter dan suster memberi kami kesempatan untuk doa bersama, lalu saya dipersilakan menunggu di luar.

Ayah berada di ruang operasi kurang lebih dari jam 07.45 pagi, dan keluar ruang operasi jam 12.30. Selama operasi, saya sempat dua kali dipanggil, yang pertama untuk dikasih lihat sejumlah “serpihan daging kecil” yang sudah diangkat, lalu yang kedua untuk dikasih lihat “daging besar” yang sudah diangkat, sekalian menandatangani satu surat persetujuan tindakan tambahan. Foto-foto benda/daging itu gak usah saya pajang di sini ya, hehe. Gak enak dilihatnya lah. Semua yang diangkat itu, dikirim lagi ke bagian patologi, untuk diperiksa lebih lanjut.

Ternyata operasinya selesai sekitar jam 11.30, tapi selama satu jam sampai ayah keluar ruang operasi itu, adalah waktu pemulihan, masih di dalam ruang operasi sana. Kayaknya sih gitu ya. Syukur puji Tuhan, operasi berjalan lancar. Ketika keluar ruang operasi, saya dipanggil lalu suster-susternya langsung membawa ayah (kali ini sudah langsung berbaring di bed) ke ruangnya kembali. Waktu keluar ruang operasi itu ayah sudah sadar tapi masih pusing-pusing, efek obat bius yang masih tersisa. Oh ya ayah gak boleh bangkit berdiri mapun duduk dulu, harus banyak baring lurus sampai lukanya kering dengan rapi. Ada juga alat infus, drain, dan kateter yang ayah pakai sejak keluar ruang operasi.

Pemulihan dan Keluar Rumah Sakit

Jadi sepanjang hari Kamis, ayah banyak berbaringnya dan belum bisa banyak makan (sempat muntah ketika mencoba makan pertama kali). Luka operasinya tidak nyeri, karena dibantu juga dengan obat-obatan (lewat infus), tapi efek samping dari obat itu, sempat gampang pusing dan mual. Akhirnya esok hari, di hari Jumat, obat infus itu diganti dokter (karena permintaan kami juga) dan diresepkan yang baru. Resep obat yang baru ini, saya yang urus ke bagian farmasi dan kasir, karena rupanya tipe obat itu tidak ditanggung oleh JKN BPJS, bersama dengan satu obat oles lainnya. Sepanjang ayah dirawat di rumah sakit, hanya satu kali ini saja lho kami harus membayar sendiri ke kasir, lain-lainnya tidak ada yang kami tanggung sendiri. Terpujilah JKN dari BPJS!
(Silakan baca apa saja yang ditanggung JKN dari BPJS pada tulisan saya di sini.)

Meski sama sekali gak boleh bangkit berdiri, ayah sudah boleh bisa duduk, dan akibatnya sudah bisa makan sendiri. Sejak hari Jumat, makanan selalu habis. Memang ayah itu pasien yang nurut dan rajin makan, hehe. Drain, kateter dan infus, masih terus dipakai sampai Senin pagi.

Hari Senin kemarin tanggal 29 September, setelah diperiksa para dokter di pagi hari, ayah saya langsung diijinkan lepas drain, kateter dan infus, dan ternyata boleh langsung keluar rumah sakit, yay! Untuk keluar rumah sakit, kami harus mengurus surat pulang. Saya memintakan tanda tangan surat pulang itu di bagian Tata Rekening, dan di sini SEP asli harus dikembalikan. Lalu setelahnya tanda tangan di bagian Admisi, dan sesudahnya saya tinggal kembalikan ke suster jaga. Setelah obat minum ayah (untuk rawat jalan) datang, kami bebas pulang deh. Ayah saya sudah gak mau pakai kursi roda pula, jalan sendiri ke Lobby dan ke mobil (untung gak nyetir sendiri, karena ada sopir yang akan menyetir mobil sampai ke rumah di Bogor).

Oh ya, untuk mobil keluarga pasien yang menginap di RSKD, bisa ‘langganan’ parkir, lima puluh ribu saja untuk seminggu. Jadi mobil kami (yang dikemudikan sendiri oleh ayah ketika datang ke rumah sakit), gak begitu mahal biaya parkirnya. Biaya parkir sih gak bisa dibayarkan BPJS, haha..

Begitulah kurang lebih cerita tentang pengalaman ayah saya. Masih belum total selesai sih, karena pasti masih kontrol ke dokter bedah plastik maupun urolog onkolog, hari Jumat nanti dan Senin depan. Setiap datang ke RSKD pasti akan perlu mengurus SEP lagi. Tapi sudah terbukti, JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dari BPJS ini sungguh membantu biaya kesehatan ayah saya.

Untuk mendaftar JKN milik BPJS, bisa juga lho dilakukan dengan mengisi formulir pendaftaran online di sini. Tapi kelengkapan proses selanjutnya, mungkin akan perlu datang langsung (atau diwakilkan?) ke kantor BPJS.

Semoga tulisan ini membantu memberi gambaran tentang fasilitas JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dari BPJS ya. Ayo daftar JKN dari BPJS! Memang perlu investasi waktu tapi sangat meringankan biaya kesehatan lho. :)
Selengkapnya baca-baca lagi saja di website BPJS ya.

Tambahan (22 Januari 2015) Keterangan: BPJS Kesehatan adalah nama badan penyelenggara jaminan sosial nasional, dan produknya untuk jaminan kesehatan ini bernama JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Tulisan saya di atas sudah diubah untuk meluruskan salah kaprah penyebutannya. Baca juga tulisan tentang manfaat JKN di tulisan saya ini: Tentang JKN dan Asuransi Swasta 

Informasi lebih lanjut:

Rumah Sakit Kanker Dharmais: www.dharmais.co.id
Daftar alamat kantor BPJS

Update Tambahan (2 Oktober 2014)
Seorang teman saya, Rere, (domisili di Lampung) juga sudah mengalami bagaimana BPJS membantu biaya pengobatan ibunya, dan bukan hanya rawat inap, tapi termasuk juga rawat jalan! Silakan dibaca dalam tulisannya di sini.

Update Tambahan (2 Desember 2014)
Ada teman lagi, Simbok Venus, yang sudah sharing tips daftar BPJS di sini, dan ada sharing lengkap tentang info BPJS dari Momo juga sudah dirangkum dalam storify di sini. Semoga berguna :)

Gambar diambil dari sebuah artikel di okezone.com. 

230 thoughts on “Ada Cerita di Balik Cerita: Kanker, Operasi, dan BPJS

    1. Betul Pon, kalau pasiennya masih sehat dan sanggup jalan-jalan seperti papaku sebelum operasi, masih bisa urus sendiri. Tapi kalau yang gak bisa banyak gerak, harus dibantu urusan administrasinya :)

  1. Tulisan yang informatif banget Kak Nat. Memang BPJS masih banyak prokon tapi sudah banyak juga cerita positif ttg BPJS. :)
    Salam untuk Ayahnya, Kak dan semoga cepat sembuh! :)

    1. Terima kasih kak Deva :) Terus terang buat saya dan keluarga, BPJS ini juga masih baru, jadi belum sempat banyak cari tahu lagi tentang pro kontra BPJS, tapi yang kami alami syukurnya baik-baik saja. Amin semoga kak Deva juga sehat selalu sekeluarga ya! :D

    1. Halo Pendar, rujukan lewat Puskesmas sepertinya memang perlu, karena jadi persyaratan/prosedur mereka. Tapi kalau tidak ada kamar, mungkin karena slot mereka sedikit dan cepat full.. Mungkin lho ya..

  2. Infonya mantap banget nih, Mbak.
    Mau tanya. Itu prosedur pendaftaran ke bank dulu ya, bukan ke kantor bpjs dulu? Saya di Jakarta, sih. Apa prosedurnya beda?
    Saya baru mau daftar buat keluarga tapi kemarin kartu antrian habis dan saya nggak ke bank dulu. Mungkin besok saya hrs ke bank dulu?

    Salam buat ayahnya ya. Moga cepet pulih pasca op, sehat dan semangat teruus.

    1. Halo Neida, saya juga kurang tahu pasti, tapi kalau gak salah, bisa mendaftar di kantor BPJS tapi harus setoran di Bank juga ujung-ujungnya. Makanya kalau di Bank, bisa mendaftar lalu langsung transfer. Banknya apa, itu juga yang harus kerjasama dengan BPJS dan memang menerima pendaftaran. Kalau di Jakarta saya kurang tahu pasti di mana saja yang terima. Maaf ya..

      Terima kasih, amin semoga semangat dan sehat terus :)

  3. Kalo ngeliat gini.. kerasa banget manfaatnya BPJSnya. Semoga bokap sehat selalu ya Nat.

    Walaupun bener sih msh rada susah alias kudu antri pagi2 tp semangatnya bokap untuk mandiri luar biasa. Dan gue rasa kesembuhannya jg terpengaruh dr semangatnya.

    1. Amin, terima kasih ya Leony :) Susahnya juga memang di tempat tertentu, jumlah antrian BPJS ada yang dibatasi (katanya nih).
      Semangat papa memang extraordinary :) Semoga tetap bertahan dan bisa menular ke sekitarnya :D

  4. Salam kenal Mak :D sepertinya saya pertama kali ini maen kemari. Tulisannya sangat bermanfaat Mak. Smoga Ayahnya lekas pulih.

    1. Salam kenal juga Mak! Aku juga masih jarang beredar kok hehe :D, nanti mau jalan ke blog Mak juga ;)
      Terima kasih banyak ya! Semoga Mak sehat juga selalu sekeluarga :)

  5. wah makasih bangett mba natali menuliskan pengalaman positif. Ini bisa jadi acuan buat temen temen yang masih kurang yakin dengan BPJS ^^. Sehat selalu untuk ayahnya ya mba :)

    1. Halo Mbak Shinta, saya senang sekali kalau isinya bisa berguna :) Memang masih ada pro kontra tentang BPJS, tapi untungnya yang saya alami sejauh ini baik-baik saja. Amin, semoga mbak juga sehat selalu sekeluarga ya :)

  6. infonya bagus. btw, berarti harus ke rs yang ditunjuk bpjs dulu ya baru bisa langsung ke dharmais? selama prosesnya gak dibikin ribet sih gak masalah. yang malesin kalo proses rujukannya yang dipersulit. syukurlah semuanya lancar, semoga ayahnya cepat sehat ya…

    1. Sepengertianku, harus dari Puskesmas yang melayani wilayah tinggal kamu, lalu ke RSUD wilayah tinggal, baru bisa minta rujuan ke rumah sakit lain, dalam kasus papaku: RS Kanker Dharmais.

      Yang bikin ribet itu: ANTRIAN, dan SLOT. Karena memang rupanya ada juga rumah sakit swasta yang sudah melayani BPJS, tapi slotnya terbatas, makanya harus antri awal, jadi pagi-pagi banget..

      Amin semoga cepat sehat, kamu juga ya Mamski semoga sehat selalu sekeluarga :)

  7. Alhamdulillaaah puji Tuhan ya Nath. Ternyata bener2 berguna banget su BPJS ini. Kebayang kalo harus keluarin puluhan juta :(

    Semoga papanya lekas pulih pasca operasi ya Naaaath :)

    1. Bisa dimulai dengan mendaftar online Chik, terus untuk ambil kartu kayaknya tetap harus datang ke kantor BPJS. Nah aku belum tahu apa bisa diwakilkan :)

      Papa baik-baik di Bogor, sudah nyetir dan keluar rumah sendiri tuh, tapi gak boleh naik motor dulu, terlalu menggesek area bekas operasi hehe.. :D

      Terima kasih udah perhatian yaa ^^

  8. Kereeeen ini tulisan harus disave banget buat pegangan secara krinologis. Aku udah daftar via online kak. Nah untuk pembayaran tiap bulannya kita yang urus dan harus inget sendiri atau ada email sms yg akan mengingatkan? Thank you. :)
    Ps: papamu satset banget ya. Cool dad. Get well soon om. :)

    1. Makasih Titiw :3
      Untuk pembayaran sepertinya BPJS belum ada reminder sendiri :| Papa masih bayar sendiri dengan reminder yang dibuat sendiri di HP lho.

      Makasih buat pujiannya, nanti disampaikan ke papa hihi :D

  9. Wah.. hebat ya BPJS! Dan saya sudah buat juga :). Kyknya perusahaan asuransi bakal gulung tiker nih klo BPJS dikelola dengan baik & bersih dr korup.

  10. Terima kasih infonya, Nat. Harus disempatkan ini untuk punya BPJS. Semoga sistem ini semakin bagus ke depannya. Semoga lekas sembuh buat Papanya, Nat. Aamiin.

    1. Terima kasih ya Pagit, aminn semoga papa lekas sembuh :)

      Betul sih, ada baiknya kalau punya BPJS, jadi mari sempatkan diri mendaftar :) *aku juga belum nih haha*

  11. Manfaat benar Mbak, pas saya lagi cari-cari . Sempet ngiri sihh sama adek yang BPJS Jakarta, rujukan Rumah Sakitnya bagus-bagus. Ehh…ternyata warga Bogor bisa pakai Surat Rujukan Lintas Provinsi,Alhamdulillaah…Trmks imfrmasinya Mak..:) Semoga Bapak sekarang sudah pulih yaa..

    1. Hai Mak Mutia, rujukan lintas provinsi ini sepertinya tergantung kondisi penyakit. Karena kasus papa kemarin itu kanker, makanya “pasti dibolehkan” ke RSK Dharmais, karena penanganan kanker nasional kan ke sana. Moga-moga untuk keperluan Mak Mutia, bisa juga dirujuk ke Jakarta ya. :)

      Amin semoga papa cepat pulih ^^ Terima kasih yaa

  12. Bersyukur banget baca cerita positif di sini.. Aku termasuk yg seneng krn ada bpjs, soalnya pengobatan gigi kan cenderung mahal, jadi pasien byk yg nunda2 utk ke drg, tau2 udah parah aja.. Semoga sih masy memanfaatkan bpjs bukan untuk mengobati penyakit, tapi lbh cenderung utk mencegah penyakit.. :)

    1. Halo JNYnita :)
      Iya kerennya BPJS karena bisa menerima rawat jalan juga, bukan rawat inap doang. Amin semoga kita jadi lebih tergerak untuk mencegah penyakit dan memeriksa diri lebih awal :)

    1. Makasih Rahne :) :D

      Bisa Ne, BPJS Kesehatan terbuka buat siapa aja kok, termasuk WNA yang kerja di sini juga lho. Karyawan atau sudah gak bekerja juga bisa :)

      Sama sih ini masih cari tahu lebih banyak lagi, berusaha lebih ngerti BPJS lagi heheh :D

    1. Amin semoga papa sehat selalu :)

      Iya BPJS ini memang dibuat supaya terjangkau (terutama bagi yang di bawah kelas menengah kan) jadi menurut kita tentunya murah :D

  13. alhamdulilah nemu tulisan ini, jadi semangat daftarin ayah bpjs. kebetulan ayah juga akan operasi kanker dalam waktu dekat. Mohon bantuannya kalau saya tanya tanya ya mb.. terimakasih banyak :)

    1. Ayo mbak segera didaftarkan BPJS dan diperiksa sesuai prosedurnya :) Semoga operasi kanker ayah bisa ditanggung BPJS dan berlangsung lancar yaa.. silakan kalau mau tanya-tanya, selama saya bisa jawab pasti saya balas :)

      Terima kasih!

  14. Kesimpulan setelah baca blog post ini: lelah. Administrasinya ribet banget dan Kemenkes belum punya terobosan utk memangkas paper worknya. Tapi memang Puji Tuhan banget kalo biaya sampai 50 jutaan itu ditanggung BPJS. Makasih sharingnya, ini jadi semacam panduan saya jika harus mengurus orang tua yg sakit, misalnya (Amit-amit sih).

    Saran: jangan sekali-kali terlambat bayar BPJS. Meski bisa disusul setelah tgl 10 dgn membayar denda, tapi keterlambatan sekian hari itu cukup utk membuat temenku ditolak di kliniknya.

  15. Mba..maaf..boleh tau dr spesialis penyakit dalam nya di bogor siapa ya? Kebetulan saya di bogor dan mama saya jg tiba2 ada benjolan..makasih mba..ditunggu reply nya…

    1. Halo Mbak Mia, maaf baru dibalas sekarang. Kalau spesialis penyakit dalamnya ayah saya konsultasi dengan Dr. Agus Taolin yang praktek di RS BMC dan kliniknya di jalan Bangbarung. Maaf ya saya kurang hafal jam prakteknya. Semoga cukup membantu :)

  16. hai mbak natalia… bisa minta alamat emailnya mbak? mau sharing tanda2 kanker,,, karena keluarga saya juga ada yang mengalami tanda2 yang seperti mbak natalia sebutkan..

    1. Mbak Kuswati, saya ini tidak punya latar belakang medis ya, jadi saya tidak punya kapasitas untuk bisa mengenali tanda-tanda kanker.. Tapi kalau mau cerita-cerita, boleh ke email saya di natalixia at gmail dot com.

      Terima kasih :)

  17. another succes story, bini gw juga begitu, pengangkatan tuba falopi karena ektopik, all free karena bpjs (24jt total operasi, rawat inap n obat). tapi ya harus sabar lah, udh gratis masih ngeluh ribet ini itu, antri ini itu. klo mo gampang ya bayar sendiri

  18. Semoga si Om terus membaik dan sehat lagi ya Nat.
    Kok beruntun gitu ya Nat setelah tante Juli, tapi kalian ber-3 bener-bener luar biasa.
    God Bless You all, saya berdoa untuk kalian semua.
    Tetaplah semangat dan menginspirasi orang banyak.

    Cheers,
    Daniel Ginong Pratidya

  19. mbak Natalia, sekedar info juga.
    sekitar bulan oktober, mama ku mertua mengalami tulang patah di selangkangan kaki kanan,
    kami sudah mendapat rujukan dari dokter umum (keluarga), untuk ke dokter ahli tulang di Rumah Sakit Elizabeth Semarang.Tetapi waktu kami bawa ke RS, kami tidak bisa masuk di kelas 1 sesuai BPJS mama kami (kelas 1), jadi kami harus naik grade masuk ke kelas utama, yang otomatis lebih mahal dan kami harus nombok uang. Dengar dari teman teman sih seringnya juga begitu, hampir semua RS sering beralasan kelas yg dipilih penuh dan harus naik grade, kalau pakai BPJS.
    Hanya waktu itu mama saya sudah kesakitan, jadi kami tidak bisa menunggu sampai kamar kelas 1 ada, jadi terpaksa kami masukkan ke kelas utama.
    Selama operasi dan perawatan di RS, kami sering disodori form persetujuan obat obat yg harus diminumkan ke mama, kami juga tidak tau, ya terpaksa kami tanda tangani.
    Jadi lah sampai waktu keluar dari RS, total beaya Rp. 58.500.000,– dan BPJS hanya mengganti Rp.10.700.000,–. jadi kami harus sekitar 48 juta.
    Ya ini buat pengalaman kita semua, seandainya kasusnya emergency harus masuk langsung dan terpaksa naik grade, ya masuk saja kamar yg ada diambil saja, tetapi kalau disuruh tanda tangan obat obat yg mau diminumkan (biasanya mahal mahal), kalau bisa jangan mau, bilang saja tolong diberi obat yang generik setara dengan BPJS saja.
    Saya kira kita tidak sampai nombok banyak.
    Sebab ternyata cerita dari teman, ada yg mama nya masuk RS, harus naik grade, masuk ke VIP, tetapi waktu suruh tanda tangan persetujuan obat, teman saya tidak mau dan minta obat BPJS saja, setelah 5 hari dirawat, ternyata habis nya 10 jutaan, dan penggantian BPJS juga sekitar 10 jutaan, jadi teman saya tidak perlu nombok uang, walaupun kamar nya naik grade.
    Asal kita bilang tindakan yang diambil dan obat obat nya minta setara BPJS, kita tidak sampai nombok banyak, bahkan kadang gratis, walaupun kamar inapnya naik grade.
    ya ini sekedar berbagi info yang saya alami.
    terima kasih Bu Natal

    1. Terima kasih sharingnya ya Fang. Memang BPJS itu punya kuota/batasan jenis kelas, dan kondisinya kalau terpaksa upgrade, memang selisih biayanya harus ditanggung pasien. Kalau gak salah hanya ada free 3 hari saja… Dan kondisi ini kadang jadi ‘celah’ ruginya pasien.

      Saya turut menyesal mendengar Anda sampai harus nombok banyak, semoga dibukakan jalan rejeki ya untuk mengurusnya.. :(

  20. wow ayah yg hebat! salut! semoga cepat pulih ya mba ayahnya. Terima kasih atas info dan sharing soal BPJSnya… bermanfaat banget…
    salam kenal

  21. Saya belajar banyak dari tulisan blog Anda. Saya tinggal di Australia tetapi keluarga besar saya tinggal di Indonesia. Saya baru kehilangan mama saya yang tinggal di Medan. Sebelum beliau meninggal saya diberitahu tentang BJPS ini oleh adik saya yang bekerja sebagai dokter di Kalimantan dan saya ingin sekali agar mama saya mendaftar dan saya yang membayar setiap bulan. Tetapi harus ada orang yang mau menolong mendaftarkan karena mama saya sudah tua. Saya kagum dengan kegigihan ayah Anda dan dengan dorongan anak-anaknya beliau bisa mengusahakannya. Bravo!

    1. Hai Sony, turut berduka dengan kepergian ibunda kamu ya.. Memang untuk mereka yang sudah tua dan butuh bantuan dalam aktivitas sehari-hari, untuk mengurus BPJS dan segala dokumen administrasinya sendiri akan tidak mungkin. Saya bersyukur banget ayah saya masih mau dan mampu mengurus sendiri, saya sendiri salut dan sungkan sih dengan ayah saya :)

  22. Saya jg baru merasakan manfaat BPJS. Anak sy mulai dari berobat jalan dan akhirnya harus dirawat selama 3hr semuanya dicover BPJS. Walau harus turun kelas rawat inapnya krn kmr lain penuh, ya gpp. Yg penting pelayanan rumah sakit menyenangkan dan tidak membeda2kan pasien. Semoga makin banyak rumah sakit yg welcome dg pasien BPJS.

    1. Halo Wiwit, ikut senang mendengar bahwa biaya untuk perawatan anakmu berhasil ditanggung oleh BPJS. Setuju kalau terpaksa turun kelas tidak apa-apa selama layanannya masih maksimal dan tidak membeda-bedakan pasien. Yang harus dicermati memang kalau sampai harus upgrade kelas di RS (seperti ada sharing lain di komentar blog ini, dari Fang kalau tidak salah). Semoga sekeluarga sehat selalu ya :)

  23. Natalia, terima kasih untuk sharingnya. Setelah baca ini saya berniat untuk daftar orang tua ikut BPJS. Izin share di Facebook. Terima kasih.

    1. Terima kasih sudah meninggalkan komentar di sini ya Samuel. Semoga pendaftarannya lancar untuk orang tua dan anggota keluarga lainnya. Silakan dibagikan, semoga terus berguna untuk orang banyak :)

  24. Wah cerita yg menginspirasi sekali Nat! Selamat ya atas keberhasilan operasi pengangkatan tumor ayahnya! But I have 2 tell sour truth about tumor, cancer, dan sejenisnya based on our experience…
    Maaf sedikit cerita latar belakang keluarga kami dl. Ibu saya sktr tahun 1990an di diagnosa mengidap kanker payudara stadium 3b. kanker dh menyebar ke paru2 (napas jd pendek) ,dan rahim (kl menstruasi, mengalami bleeding). Pilihan pengobatan secara medis hanya lewat oprasi, kemo, sinar… Tp karena ibu saya sering mendengar efek buruk pasca perawatan secara medis, beliau memutuskan pasrah, kalaupun dipanggil menghadap Nya, tdk mau dlm penderitaan krn efek kemo, sinar…
    Singkat cerita, ibu sy mengikuti terapi Akupresur (menekan titik2 akupunktur di telapak kaki dgn stick kayu dan menekan titik2 akupunktur di badan dgn tangan). Dan setelah intensif diakupresur selama 3 bln an, ibu saya dinyatakan sembuh. Fast forward…
    Ibu membuka pengobatan Akupresur, dan hingga saat ini sdh ada kurang lebih 40 Cbg. And based on our experience menghadapi Pasien2 kanker, tumor, dan sejenisnya, kami berkesimpulan :
    1.kanker dan tumor itu bukan penyakit yg mematikan… Yg mematikan justru perawatan medisnya : kemo, sinar, dll, krn kami sering bertemu dgn pasien kanker yg sdh tahunan, bahkan puluhan tahun mengidap kanker/tumor di tubuhnya, dan tdk diambil tindakan apa2 secara medis.. Justru malah yg sdh pernah mengambil tindakan medis, yg cepat menghadapNya…
    2.Tindakan biopsi merupakan awal dr malapetaka yg lbh besar bagi penderita tumor, krn biasanya setelah dibiopsi, tumor jd ganas, dan makin ganas…
    3.tindakan operasi tidak tuntas mengangkat tumornya, krn akarnya msh tertinggal, dan biasanya mempercepat proses metastase (menyebar)
    4.penyembuhan penyakit apapun, faktor yg paling utama adalah mental pasiennya sendiri… Positive thinking, semangat hidup yg tinggi, dukungan dr lingkungan keluarganya, sangat2 membantu proses penyembuhan…

    1. Halo Wiryanto, terima kasih sudah berkomentar di blog saya dan sudah berbagi pengalamannya. Ikut senang mendengar cerita dari ibu Anda, semoga tetap selalu sehat sekeluarga ya. Untuk kesimpulan yang Anda share di atas, saya mau berkomentar sedikit:
      Poin no. 1 – Memang prinsip dunia medis yang mendasar, setahu saya, obat adalah racun. Jadi memang tidak dipungkiri kalau perawatan medis dan obat-obatan itu memang “memasukkan racun” ke dalam tubuh, tapi dengan tujuan untuk membunuh penyebab penyakit, bukan begitu? Dan reaksi tubuh manusia bisa berbeda-beda karena memang manusia memiliki tubuh yang berbeda satu sama lain dong :) Itu menurut saya ya.
      Poin no. 2 dan no. 3 saya tidak bisa mengomentari, karena ini sungguh di luar keahlian dan kemampuan saya. Hanya saja, menurut saya sih, tidak apa-apa memiliki hipotesa tertentu, tapi sebaiknya tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan.
      Poin no. 4 saya setuju banget :)

  25. Sorry ya Nat, didn’t mean 2 discourage u, hope your dad doing ok… What I’m trying 2 say is, BPJS membantu banget meringankan biaya berobat, apalagi kl harus opname segala di rs… TAPI, u cancer, tumor, lbh baik cari alternatif di luar medis…sure there’s a lot of cancer survivor (with medical history treatment )out there, but statistically, very disheartened… Di luar sana bnyk pengobatan alternatif yg bs membantu mengatasi cancer, tumor, dgn biaya yg relatif terjangkau… Mungkin kl dibandingkan dgn lwt BPJS, biaya berobat secara alternatif ini lbh tinggi….Tp walopun lwt BPJS jauh2 lbh murah, but is it worth taking the risk the life of your love one? Sayangnya sepengetahuan saya, sampai saat ini BPJS belum cover pengobatan alternatif di luar medis…

    1. Yes it’s understood, Wiryanto. Saya sendiri gak apa-apa kok untuk mencari opsi di luar medis, tapi itu semua kembali ke pilihan masing-masing, dan dengan konsekuensi masing-masing. Saya percaya bahwa di dunia ini masih banyak misteri untuk umat manusia yang belum sepenuhnya bisa manusia pahami, termasuk soal penyakit kanker, hehe..

      Tulisan saya sendiri memang gak bermaksud menguliahi soal solusi terhadap penyakit kanker, tapi sharing saja soal pengalaman ayah yang mengobati kankernya secara medis dan menggunakan fasilitas BPJS. Mungkin dari kamu bisa juga sharing banyak-banyak soal accupressure dan siapa tahu bisa berguna dan tersebar untuk lebih banyak orang lagi? :)

      Anyway sekali lagi terima kasih ya untuk komentar dan sharing kamu :)

    1. Hai Fani, setahu saya kalau kondisi seseorang urgent (masuk ICU dll), bisa “bypass” dulu urusan dokumennya, tapi saya belum punya pengalaman seperti itu. Dan memang sebaiknya yang sakit harus didampingi untuk dibantu mengurus dokumen-dokumennya. Tidak ada solusi yang ideal kalau mau prosedur yang ‘adil’ kita tegakkan. Tapi menurut saya pastinya kalau ada kasus yang berbeda tingkat keparahannya, akan dipertimbangkan lagi dan siapa tahu bisa mendapat jalur yang berbeda. :)

      Terima kasih ya sudah berkomentar di sini.

  26. Semoga Ayah mbak Natalia ttp diberi kesehatan. Kebetulan bulan lalu ayah sy jg operasi pemasangan ring pada jantung di RS Sardjito Jogja dan puji Tuhan operasinya berjalan lancar. Biaya operasi yg sebesar 75jt pun puji Tuhan ditanggung BPJS. Menurut saya jaminan kesehatan seperti ini sangat penting dan menjadi hak bagi setiap warga negara, dan negara hrs rajin menyosialisasikan. Ga kebayang terjadi pd org yg maaf, kekurangan, dan tidak punya jaminan kesehatan pasti akan kesusahan mendapat fasilitas kesehatan. Mari kita dukung pemerintah utk kebijakan BPJS ini dimiliki bagi yg membutuhkan jaminan kesehatan.

    1. Halo mas Andreas, terima kasih sudah meninggalkan komentar di sini. Turut senang mendengar operasi ayah Anda sudah berjalan lancar :) Saya setuju, jaminan kesehatan ini sangat penting dan berguna untuk masyarakat, semoga pemerintah dapat menjaga keberlangsungannya ya :)

  27. maaf mbak. klo udah punya mobil itu kan brarti statusnya orang mampu atau kaya kenapa ga bayar sendiri biaya operasi dll. punya uang/harta buat senang2 aja giliran kena sakit minta gratisan….

    1. Maaf mas nano saya ingin komentar tentang respon anda. Coba anda baca lagi tulisan Mba Natalia ini dengan cermat dan teliti, ayahanda dari Mba Nat ini adalah seorang pensiunan dan sudah masuk usia lansia. Apakah usia lansia masih dapat dikatakan usia produktif? Tentu agak sulit apabila membayar biaya operasi yg terlampau besar. Apakah sepenuhnya gratis? Tentu tidak, karena setiap bulan anggota BPJS harus membayar iuran sesuai kelas yang dipilihnya. Jadi kalau dikatakan gratis ya ngga benar juga mas. Bukan usia produktif + pensiunan + memiliki penyakit yg berat (tumor/ kanker) = beban yang sangat berat. Pertanyaannya : apakah salah bila seorang pensiunan yang usianya sudah lansia ikut menikmati haknya sebagai warga negara indonesia untuk mendapatkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”? (Pancasila, sila kelima); yg termasuk di dalamnya menikmati layanan BPJS yg diperuntukan bagi seluruh warga Indonesia. (Mohon bedakan BPJS yang harus bayar iuran per bulan layaknya asuransi dengan KJS atau KIS ya mas yg benar2 gratis untuk masyarakat kurang mampu).

      Sekarang masalah mobil; apakah salah apabila seorang pensiunan yang sudah bekerja mengabdi puluhan tahun (didahului sekolah yg berat sejak muda dan kerja keras), dan pada akhirnya di hari tua memiliki sebuah mobil hasil jerih payah dan kerja kerasnya sendiri? (bukan bentley atau jaguar loh ya mas; sebab kalau bentley atau jaguar kemungkinan besar berobatnya di Amerika atau Jerman). Mohon kalimat anda yg agak “judging” ini dicermati kembali, show some sympathy and respect, kita lagi bicara tentang perjuangan seseorang yang sedang fight dengan cancer.

      1. lah trus bekerja udah puluhan tahun mengumpulkan harta banyak itu buat apa? trus kluarganya gmn tanggung jawabnya sama si ayah? jual harta kek buat operasinya. bpjs iurannya kan cuma 60rb paling mahal. orang ga mampu pun bisa menjangkaunya. trus anak2nya kan udah pada kerja smua bisa urunan buat biaya oprasi.

        1. Halo Mas Nano, saya akan mereply anda, semoga balasan ini cukup pendek bagi anda jadi tidak membuang waktu anda.

          Pertama, punya mobil buat keluarga kami adalah sesuatu yang fungsional, itu pun dibeli dengan berhutang cukup lama. Jadi saya merasa kami bukan dari keluarga kaya. Dan karena fungsi transportasinya, maka belum kami jual untuk keperluan kesehatan.

          Kedua, kami sudah pernah jual rumah dan macam-macam, untuk pengobatan almarhum ibu saya yang juga mengalami sakit kanker. Kami sekeluarga sudah jatuh bangun untuk mendukung fasilitas kesehatan ibu saya sampai akhirnya ibu saya dipanggil Tuhan. Semua itu memang tidak dijabarkan di sini, karena saya rasa memang tidak perlu saya umbar dan tidak relevan dengan tujuan saya menulis tulisan ini. Jadi anda tidak perlu menghakimi urusan ‘effort’ dari keluarga saya, karena memang ada banyak hal yang saya tidak paparkan di sini.

          Ketiga, maksud tulisan saya adalah untuk berbagai pengalaman sebagai anggota JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) BPJS. Di luar bahasan itu, saya anggap tidak relevan, jadi tidak perlu dibahas lebih lanjut.

          Terima kasih sudah meninggalkan komentar di sini, have a good day.

  28. Ah aku baru baca tulisan ini, nice sharing kak :)
    Semoga Beliau selalu dikaruniai sehat ya.

    Anyway, itu BPJS masih bisa daftar ya berarti walaupun sudah terdiagnosa sebelumnya? Kalau asuransi biasa kan gak bisa ya.
    (Maaf kalau sudah ada yang pernah nanya ini, aku belum sempat baca semua komentarnya)

    1. Makasih kak Ariev! :) Amin untuk doanya..

      Iya betul, kita masih bisa daftar JKN dari BPJS (ternyata nama produknya adalah JKN – Jaminan Kesehatan Nasional – sementara BPJS adalah penyelenggaranya) walaupun sudah terdiagnosa, dan pendaftaran JKN ini tanpa check up apa-apa. Eh kayaknya belum pernah ada yang tanya ini lho :D :D

Leave a reply to diiki fadilah Cancel reply