Tulisan dari Hong Kong

Minggu lalu, teman saya sejak masih kecil dan kini bermukim di Hong Kong, membuat sebuah tulisan yang membuat saya tercenung sendiri. Terus terang, saya tidak banyak mengikuti perkembangan berita protes di Hong Kong dengan rajin. Tapi ada banyak informasi dari teman-teman saya di berbagai media sosial yang saya dapat, rata-rata semuanya salut dengan bagaimana aksi protes di Hong Kong itu begitu berbeda.

Tulisan teman saya di bawah ini, saya muat karena menurut saya, sudut pandangnya lebih dekat (karena dibuat berdasarkan observasi langsung), dan karena ia membahas dengan lengkap, pandangan-pandangan yang juga saya rasakan sendiri. Selamat membaca :)

Perjuangan Serupa Tapi Tak Sama di Dua Negara

Dalam beberapa minggu terakhir ini, saya menganggap diri saya beruntung — atau tidak beruntung, tergantung sudut pandang Anda — dapat menyaksikan dua aksi perjuangan membela demokrasi pada saat yang kurang lebih bersamaan. Yang satu terjadi di negara asal saya, Indonesia, dan yang kedua terjadi di negara tempat tinggal saya sekarang, Hong Kong. Saya katakan Hong Kong dan bukan Republik Rakyat Cina karena Hong Kong itu secara legal memang adalah bagian dari negara Cina, namun sebagian besar penduduk Hong Kong tidak merasa orang Cina (saya berbicara dalam konteks politis, ideologi, cara berpikir, dan bukan ras).

Di Indonesia, president incumbent Susilo Bambang Yudhoyono, presiden pertama Indonesia yang terpilih melalui pemilihan langsung, sepertinya akan meninggalkan legacy pahit, yaitu mengembalikan Indonesia kepada rezim yang ada sebelum masa kepresidenannya sendiri berlangsung. RUU yang akan mengubah pemilihan kepala daerah melalui pemilihan umum langsung menjadi sistem pemilihan kepala daerah oleh DPRD telah ditetapkan. Jelas kalau seseorang berpikir menggunakan logika murni, tidak mungkin pemilihan oleh DPRD itu lebih merepresentasikan amanat rakyat dibandingkan dengan pemilihan langsung. Pemilihan langsung, dengan segala plus minusnya, adalah pemilihan oleh rakyat secara langsung — satu orang, satu suara. Pemilihan oleh DPRD yang konon mewaliki rakyat jelas akan mengalami deviasi dari keadaan aslinya karena setiap anggota perwakilan rakyat harus mengemukakan satu pilihan di saat suara rakyat yang diwakili jelas sangat majemuk.

Analoginya, kalau dalam matematika, ada istilah “Pembulatan dilakukan hanya di hasil akhir” dikarenakan jika pada hasil sementara setiap langkah dilakukan pembulatan, hasil akhir yang dicapai akan melenceng terlalu jauh dari hasil aslinya.

Oh iya, selain itu, jangan dilupakan bahwa analogi tersebut mengasumsikan bahwa para pejabat yang menjadi anggota DPRD itu memang mewakili rakyat. Apakah benar? Saya kira, untuk kasus mayoritas, jawabannya adalah tidak. Mereka akan memilih pemimpin daerah yang adalah “orang mereka sendiri”, yang sepikiran dan dapat diajak kerjasama. Dan kata “kerjasama” di sini mengandung konotasi negatif, tentunya.

Keputusan untuk menerapkan RUU pemilihan kepala daerah oleh DPRD adalah contoh nyata perampasan hak politik rakyat Indonesia oleh pihak-pihak yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan akhir mereka. Mereka boleh memberikan segudang alasan, termasuk pengiritan pengeluaran negara. Seandainyapun pengiritan itu memang benar, apakah pengiritan itu sebanding dan cukup bernilai dibandingkan dengan pemangkasan hak untuk memilih kepala daerah kita secara langsung dan independen? Is it worth it? Anda boleh berkata “Ya”, terserah Anda. Namanya juga demokrasi. Namun saya berkata “Tidak”. Seandainya memang pemerintah benar-benar serius ingin mengirit anggaran, saya kira banyak pengeluaran negara yang jauh lebih tidak penting (bahkan boleh dibilang pemborosan) yang dapat dipangkas.

Di saat Indonesia sedang menghadapi masalah ini, masalah serupa tapi tak sama sedang terjadi di Hong Kong. Pemerintah pusat Beijing telah lama menjanjikan kepada rakyat Hong Kong bahwa dalam pemilihan tahun 2017 yang akan datang, rakyat Hong Kong akan diperbolehkan mencalonkan dan memilih calon Chief Executive secara bebas dan langsung. Bulan Agustus lalu, pemerintah pusat Beijing mengubah keputusan mereka dan melanggar janji yang sudah mereka buat. Rakyat masih tetap diperbolehkan memilih calon secara langsung, namun calon tersebut hanya diperbolehkan menjadi calon apabila telah disetujui oleh Beijing. Intinya, silahkan memilih antara beberapa calon yang ada, namun semua calon tersebut jelas adalah orang-orang pro-Beijing.

Tidak terima dengan keputusan tersebut, rakyat Hong Kong yang diprakarsai mahasiswa, muda-mudi, dan diikuti segenap lapisan masyarakat turun ke jalan dan berdemo secara damai untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka atas regime otoriter Beijing. Sebagai orang yang melihat kejadian ini pada saat terjadi, saya dapat katakan bahwa yang namanya demo di Hong Kong dan demo di Indonesia, sangatlah berbeda.

march-felix-bridge

Jika Anda mendengar demo di Indonesia, apa yang Anda bayangkan? Apa yang pasti terjadi dalam setiap demo besar di Indonesia? Mungkin tidak 100%, namun hampir selalu ada perusakan. Entah itu perusakan toko, pemecahan kaca-kaca bangunan sekitar, mobil digulingkan dan dibakar, perusakan fasilitas umum, dan lain sebagainya. Dan setelah demo sirna, lautan sampah tertinggal di mana-mana. Sangat menyedihkan. Mobil yang dibakar itu sangat mungkin milik seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sumber kejengkelan pendemo. Bukan hanya sebuah toko yang dirusak dan dijarah, tapi penghidupan seseorang yang telah dirusak dan dijarah. Merusak fasilitas umum adalah merusak fasilitas bersama milik rakyat. Yang rugi siapa? Ya rakyat sendiri. Ada fenomena nyata di Indonesia di mana kalau Anda merasa benar dan berada di antara kerumunan massa yang mendukung Anda, Anda merasa mabuk kekuatan, merasa apa saja bisa dan boleh Anda lakukan. Kalau sudah kehilangan dukungan massa tersebut, atau dilawan oleh massa yang lebih besar lagi, baru kembali menyadari betapa rentannya Anda. Contohnya ya sekelompok orang yang selalu mengaku front pembela suatu agama tertentu. Kalau ada massa pendukungnya, beraninya luar biasa. Begitu dilawan, lari tunggang langgang sampai nabrak orang dalam usahanya untuk kabur. Biar saya katakan sejelas-jelasnya: Saya bukan anti agama itu, saya hanya anti orang-orang yang mengaku pembela agama itu dan menggunakan nama agama itu sebagai pembenaran tindakan kekerasan dan anarki!

Hong Kong Protest

Keadaan di Hong Kong mendapat sorotan dari pers dunia sebagai demo paling tertib di dunia. Saya bukan orang yang mudah untuk amazed. Tapi untuk demo di sini, I am amazed. Mereka melakukan sit-in selama berhari-hari, sepanjang hari dan sepanjang malam. Anak-anak muda begitu solider dalam melakukan civil protest mereka. Kata kunci di sini adalah “civil“. Tentu lautan massa yang mengikuti demo mengakibatkan gangguan lalu lintas yang berarti karena mereka menduduki jalan-jalan utama, khusunya di kawasan bisnis Hong Kong. Di exit-exit kereta bawah tanah (MTR) yang mereka hadang, mereka tidak lupa untuk meminta maaf atas ketidaknyamanan yang harus dialami para pengguna jasa MTR. Ketika ada mobil polisi yang sedikit mengalami kerusakan dalam demo itu (yang sebenarnya hanya tergores dan penyok sedikit), mereka menuliskan pesan yang ditinggalkan di kaca depan mobil tersebut, “Kami minta maaf, kami tidak tahu siapa yang merusak mobil ini. Kami bukan anarkis, kami hanya menginginkan demokrasi”. Di saat massa sedang melakukan long march sepanjang suatu jalan, terlihat bahwa kerumuman manusia itu membelah, mengitari sebuah patung, lalu kembali melebur menjadi satu barisan besar di seberangnya karena di sekitar patung tersebut ada taman kecil dengan tulisan “Please do not step on the grass“. Alex Ho (34), seorang guru etika dan biologi melihat seseorang mengecat slogan-slogan demo dengan cat semprot merah pada tembok City Hall yang berwarna putih. Malam itu, beliau kembali dengan sekaleng cat putih dan memperbaiki tembok itu. “Adalah kewajiban kita untuk menjadi warga negara yang baik, bukan untuk merusak Hong Kong tetapi untuk menunjukan bahwa kita cinta Hong Kong dan perdamaian”, katanya.

Para relawan yang tidak berpartisipasi dalam demo di jalan juga mendukung kegiatan ini dengan menyumbang air minum botolan, makanan, snack, obat-obatan, mendirikan pos kesehatan, dan lain sebagainya. Saking besarnya momentum dukungan tersebut, sampai-sampai mereka harus menolak beberapa penyumbang karena mereka sudah kehabisan tempat untuk menampung semua sumbangan tersebut. Aksi solidaritas ini juga tidak hanya ditunjukkan oleh warga negara Hong Kong. Tidak sedikit warga negara asing yang turut sit-in atau mendukung dengan cara lain. Ada sekelompok warga negara asing yang sepanjang malam selama dua malam berturut-turut membuka gerai barbeque untuk memberi makan kepada para demonstran. Mereka menghabiskan sampai HKD 10,000,- (sekitar Rp 15,000,000.-) dari kocek mereka sendiri hanya demi menyediakan makanan hangat kepada para demonstran secara cuma-cuma.

Pastinya, semua ini menyebabkan terhentinya perputaran roda-roda ekonomi di Hong Kong untuk sementara waktu ini. Tentu saja kerugian yang dialami oleh perusahaan-perusahaan yang mayoritas bergerak di bidang finansial tidaklah sedikit. Ketika BBC mewawancara beberapa pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut, jawaban mereka kurang lebih sama: bahwa kerugian sementara secara finansial ini tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan prospek menangnya demokrasi di Hong Kong karena dalam jangka panjang, itu akan jauh lebih kondusif untuk iklim perekonomian di Hong Kong. What an answer! Dan betapa benarnya.

Setiap pagi, ketika demo semalam suntuk sudah berakhir, dan sebagian demonstran pulang dulu untuk mandi dan tidur siang, ketika barisan polisi sudah membubarkan diri dan jalan-jalan sudah lebih sepi, terlihat masih ada anak-anak muda di jalanan. Apa yang mereka lakukan? Mereka mengorganisasikan diri untuk memungut sampah yang tertinggal dari aksi semalam. Bukan hanya memungut sampah, mereka memilah-milah sampah untuk didaur ulang: kertas, plastik, dan kaleng aluminium. Again, I am amazed! Ketika ditanya mengapa mereka sampai masih melakukan itu, jawaban mereka adalah kira-kira sebagai berikut: “Kita memang sedang berjuang membela demokrasi, namun kita harus tetap peduli kepada lingkungan, karena tanpa lingkungan yang bersih dan sehat, hidup juga tidak akan baik.”

Saya bukan ahli politik, bukan pengamat internasional, bukan siapa-siapa. Saya juga bukan menulis ini untuk menjelek-jelekkan dan membanding-bandingkan Indonesia dengan negara lain. Justru saya ingin menunjukkan bahwa masih banyak yang dapat dipelajari dan ditiru oleh Indonesia, dan masih besar harapan saya bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang lebih baik dengan rakyat yang berani memperjuangkan aspirasinya secara gigih dan keras, namun dengan damai dan teratur tanpa merugikan negara dan rakyat sendiri. Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda mencari berita seputar Occupy Central di berbagai outlet berita dalam dan luar negeri and see for yourself.

Ditulis oleh Marc Alexander, 1 Oktober 2014.

*Gambar pelengkap diambil dari cnn.com, scmp.com dan news.kuwaititimes.net

Menurut kamu, kita bisa mulai dari mana untuk menjadi Indonesia yang lebih baik lagi? 

Advertisements

8 thoughts on “Tulisan dari Hong Kong

  1. tulisannya bagus banget. Aku juga ikutan amazed, bisa ya mereka tertib dan teratur plus gak ngerusak dan bikin resah. Keren.
    Emm untuk jadi lebih baik, kita kayaknya harus taat aturan :)

    1. Taat aturan di sekitar kita kayaknya a good start :) Cuma sayangnya kalau di level atas (politik) sana, aturan suka diputer-puter ya jadi serba salah *lah ini jadi skeptis lagi tentang negara kita lagi huh >.<

      1. yah yang sederhana aja dulu, misalnya gak ngelanggar rambu2 lalu lintas, gak parkir sembarangan, gak buang sampah di sungai/selokan, gak bangun rumah di pinggir aliran sungai, gak berjualan di trotoar, naik bis/angkot dari halte dll. Kan banyak tuh sebenarnya yang kecil2 tapi sebenarnya bisa bikin hidup kita lebih enak. Kan jumlah masyarakat lebih banyak daripada orang2 diatas sana :)

        1. Ah iya kalau kayak gini setuju banget :) Paling gak dari disiplin kebersihan dan waktu (biar gak korupsi waktu pas kerja ya) hahaha.. (godaannya banyak) xD

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s