Cerita di Balik Handband

Sejak bulan Juni/Juli lalu, ada satu hal yang kerap kali ditanyakan teman-teman saya kalau lagi bertemu dan ngobrol-ngobrol. “Itu tangan kanan kamu kenapa? Kok pakai dibalut?” Sebenarnya bukan dibalut amat sih, tapi biasanya saya sedang mengenakan handband atau wrist wrap (beda ya dengan hand bandage).
Jadi, karena sudah cukup sering banget ditanya begini sampai saya capek menerangkannya berulang kali, saya pikir boleh jugalah jadi bahan post di blog saya yang kebetulan sudah agak lama gak diupdate.

Tanganku waktu pertama kali pakai wrist wrap

Awal mulanya sederhana. Tangan kanan saya keseleo dalam kecelakaan domestik. Bukan insiden jatuh atau aktivitas ekstrim apa sih, pergelangan ini tiba-tiba nyeri mendadak sewaktu saya sedang merapatkan jendela. Well, jendela kamar saya waktu itu sudah agak renggang engselnya, jadi perlu sedikit ekstra effort untuk membuatnya rapat: pakai diangkat sedikit supaya kunci jendelanya benar-benar bisa klik menutup.
Kejadiannya tuh sekitar awal tahun 2012 ini (atau akhir tahun lalu ya.) Sempat pergelangan tangan ini terasa sakit luar biasa nyeri, tapi sejam dua jam kemudian hilang kok. Hm, jadi saya pikir sudah sembuh sendiri, gak perlu dicek ke dokter atau diurut deh.

Bulan Maret 2012, saya sempat mengadakan perjalanan ke luar negri, back to back. Pertama, mengunjungi Filipina yang tropis dan panas, dan pada weekend yang sama, dilanjutkan ke Hong Kong yang sedang mengalami musim dingin. Lupa persisnya kapan dan di mana, tapi karena di waktu perjalanan itu saya sempat bolak balik membawa bawaan agak berat (ditenteng di tangan kanan), alhasil pergelangan tangan kanan saya nyeri lagi. Saya ingat ketika di HK, saya sampai bilang pada orang tua saya (yang pada waktu itu sedang berobat di sana) nanti pulang ke Indonesia saya cek deh, kalau perlu rontgen sekalian… Tapi sepulang ke Indonesia, sibuklah sana sini… Lupa deh dengan janji saya itu.

Next thing I know, Juli 2012, saya mulai suka ikutan exercise bersama dengan teman-teman MasterBootCamp di Senayan. Saya bahkan ikut mengajak beberapa teman lho buat mencoba MBC juga (Radit, Ary, kalian ikut karena gue dah ikut kan? Hehehe..)

MBC preparation
Diambil dari Path-nya Ary, ini nih pagi hari waktu mau MBC pakai alat itu tuhh *gak tahu namanya sih*

Pada suatu sesi, ternyata ada sesi latihan angkat beban menggunakan tangan berganti-ganti…dan tangan saya kembali nyeri mampus. Iya kali ini rada parah nyerinya. Saya sampai urung melanjutkan exercise saya yang melibatkan tangan kanan. Lagian waktu itu saya sepedaan ke lokasi dan masih harus sepedaan pulang. Gak sebaiknya memaksakan diri terlalu jauh.
[Disclaimer: Saya tidak menyalahkan sesi dari MasterBootCamp (“MBC”), MBC adalah kegiatan exercise yang dilakukan bersama certified trainer dan aman untuk dicoba siapapun.]

Nah karena ada para certified trainer ini juga, mereka lalu “mengomeli” saya dan menganjurkan untuk pergi ke fisioterapis. Dan kali ini saya nurut. Soalnya sakitnya emang agak lumayan, (dan waktu itu sih kayaknya ke fisioterapis terdengar lebih ramah daripada ke tukang urut) dan memang lagi niat aja (ya karena sakitnya sih).

Hmm kalau gak salah hari itu saya terlalu sibuk, lalu keesokan harinya saya kesorean, sehingga baru hari Seninnya saya ke fisioterapis. Dan ooh la laa.. Ketahuan memang ada radang di dalam pergelangan tangan saya. Bukan sekali lihat dan raba dan terawang langsung ketahuan sih, jadi begini tahap-tahapnya saya diperiksa di fisioterapis (setelah daftar dan nunggu dipanggil ke ruang praktek ya):

Si mbak terapisnya nanya-nanya dulu sejarah cederanya saya, kemudian saya dicek (kayak diurut-urut dikit gitu) mana yang sakit. Wih, pas posisi tertentu yang menekan sisi pergelangan tangan saya, nah pas itu berasa banget deh nyerinya. Si mbak tersenyum maklum, katanya memang pergelangan tangan itu memang rawan radang dan kecelakaan gitu deh, apalagi buat atlet ya. Setelah ketahuan di mana sumber sakitnya, saya langsung diterapi.

Ada 3 step dalam terapinya, pertama-tama tangan saya (tepatnya di sisi samping pergelangan) disinari gelombang infra merah selama 15 menit menggunakan semacam lampu sorot merah. Gelombangnya hangat cenderung agak panas, dan selain itu sih gak menyebabkan sensasi apa-apa. Tapi katanya kalau sakit atau cedera parah, baru disinar aja bisa berasa ngilu-ngilu lho. Dan sekali waktu saya pernah ditunjukkan, kalau lampu TL dilewatkan di bawah lampu itu, lamput TLnya berpendar-pendar nyala! Jadi beneran nih bukan sembarang lampu berwarna merah aja tuh yang dipakai untuk terapi.
Selama terapi step pertama ini, pertama kali saya bengong-bengong saja dan gak menyiapkan kegiatan sampingan apa-apa. Belakangan sih saya suka sambil baca buku tuh kalau lagi bawa.

Lalu step kedua, tangan saya ditempeli semacam beberapa patch kecil yang tersambung kabel, dan saya dialiri gelombang arus listrik (kecil banget katanya sih) selama 15 menitan juga. Sensasinya? Ada getar-getar gelombang berasa di tangan. Agak kaget pas pertama kali mesinnya dinyalakan tuh, dan agak linu juga. Tapi linu ini masih dapat ditolerir lah.

Begini nih langkah-langkah fisioterapinya

Step ketiga, pergelangan tangan saya dilumuri gel, lalu digosok-gosok (mirip kayak nyetrika) dengan alat yang menyerupai separuh gagang telepon jadul gitu. Nah yang satu ini, waini… Rupanya alat terakhir ini memang “kartu as”-nya. Pertama kali diterapi dengan alat ini, saya gak pakai curiga apa-apa tuh.. Saya kira bakal hangat-hangat saja seperti alat sebelum-sebelumnya.. Ternyata ya, kalau alat ini melintas ke bagian yang normal, ya memang hangat saja, tapi begitu lewat bagian yang error, ternyata dia memancarkan gelombang ultra sound yang “mengurai” bagian error ini. Sensasinya? Ngilu! Linu! Pegal campur nyeri, sudah seperti dipijat langsung di sumbernya nih di dalam tangan, sementara bagian kulit sih gak berasa “sakit”-nya..
Wih ketika diterapi pertama kali, sampai nangis tuh saya menahan ngilunya, sementara posisi duduk sudah berkelit gak jelas (maunya menghindari alat itu, tapi ya gak bisa lah).. Waktu yang entah hanya 5, 10 atau 15 menit serasa gak berkesudahan ketika diterapi alat ini. Hiks.

Selesai ketiga sesi ini, tangan saya kemudian di-massage dan stretching oleh si mbak terapis, pakai balsem hangat. Tangan kanan saya idealnya tidak dipakai beraktivitas dulu (yang mana tak mungkiiinn), dan untuk mengurangi beban dan gerak di pergelangan tangan, maka saya disuruh pakai handband/wrist wrap itu.. Nah begitulah asal muasal handband yang sering saya pakai sekarang ini.

Lho kenapa masih dipakai? Kan sudah diterapi? Hmm.. Iya orang mengira selesai (satu kali) terapi (saja) tangan saya bisa sembuh seperti sedia kala. Hoho tidak. Pengobatan seperti ini bukan yang model instant. Saya sampai bolak balik minimal 3x dulu untuk menuntaskan pengobatan tangan saya. Dan itu masih dilanjutkan pakai handband terus, dan segera cek kembali kalau sakit lagi.

Namanya juga tangan kanan ya.. Dan saya memang pengguna tangan kanan aktif (maksudnya bukan kidal), ada saja yang bikin tangan ini nyeri lagi lah, misalnya waktu mengangkat laptop tanpa sengaja hanya sebelah tangan, mengangkat tas, mengangkat buku, dan oh!.. Saya belum lama ini baru menyadari, aktivitas saya di trackpad laptop tanpa mouse rupanya cukup intens (iya lagi gak ada mouse nih..hiks..) dan ini berpotensi menyakiti pergelangan tangan saya lagi. Makanya saya masih sering pakai handband ini kecuali kalau ke kondangan temen..

Gara-gara cedera ini saya mengurangi dulu aktivitas olahraga seperti sepedaan dan MBC sementara porsi makannya nambah.. Kangen sepedaan sih (sepertinya lebih aman memakai citybike kembali, jangan roadbike dulu) dan kangen MBC.. Pelan-pelan mau ikut join lagi nih ceritanya, semoga ya saya cepat pulih banget dan gak gampang nyeri-nyeri lagi..

Pesan saya buat kamu semua, kalau sampai pernah nyeri karena keseleo atau cedera sampai bengkak, jangan kamu biarkan begitu saja deh, kalau didiamkan bisa bakal berlarut-larut masalahnya. Jadi buat yang pernah cedera, ada baiknya diperiksa, oke?

Tentang tempat fisioterapi saya, Sasana Husada, lebih lanjut bisa dibaca di sini: http://www.sasanahusada.co.id/

Update 25 Oktober 2012.

Sekedar menambahkan, kalau tidak salah ingat pertama kali saya terapi di Sasana Husada itu habis Rp 160-180rb, baru setiap kunjungan berikutnya rata-rata saya membayar Rp 150rb. Harga kunjungan pertama memang beda karena ada biaya admin untuk membuat kartu anggota.

Sasana Husada ini buka hari Senin-Minggu, tapi jamnya beda-beda. Kalau weekdays buka mulai jam 8 pagi sampai agak malam (pasien terakhir diterima jam 6 atau 7 malam), kalau weekend buka dari jam 9 sampai jam 2 siang.
Silakan ditelpon atau datang langsung ke nomor telp/alamat di bawah. Lokasinya pas di seberang RS Pusat Pertamina, yang ada tempat makan OenPao-nya. Semoga informasi ini membantu :)

Jl. Kyai Maja No. 19
Blok C-1 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12130
Telp 021 7222410, 7236391.

Update per 26 November 2012.

Tanggal 28 Oktober 2012 adalah terakhir kali saya berkunjung ke Sasana Husada untuk check up dan terapi (so far). Dan sejak tanggal 28 itu saya sudah boleh lepas handband saya *YAAAYYY!!! Waktu itu saya sekalian diberitahukan ada kenaikan harga layanan di sana, jadi sekali perawatan itu bisa 180 ribu Rupiah, sudah bukan 150 ribu Rupiah lagi. Mungkin memang harus menyesuaikan dengan perubahan harga lain-lain ya.

Sekilas cerita, weekend kemarin saya sudah ingin ikut latihan MasterBootcamp lagi, tapi apa daya kesiangan bangun karena masih radang tenggorokan hahaha.. Kangen MBC nih huhuhu..

Advertisements

23 thoughts on “Cerita di Balik Handband

  1. waaa persis.. aku pakai knee support juga pasca jatuh. fisioterapi pra-operasi, operasi lutut dan fisioterapi pasca-operasi. total aku fisioterapi dua hari sekali rutin selama mmm.. 6 bulan lebih deh. ya gitu fisioterapinya tahap2nya begitu, sama kaya kamu, sampe bosen dan terapisnya apal. kalo skip sekali dua kali pasti ditanyain kemaren bolos kemana :p sekarang sih olahraga sendiri tapi masih rutin konsultasi ke ortopedi.

    semoga cepat pulih dan gak kumat-kumat ya nat, dan hati-hati! :p

    1. Soalnya kita gak semua ngerti apa sih keseleo dan dampak-dampak apa saja yang bisa diakibatkan keseleo ya… Ah semoga penyakit kamu bisa disikapi gimana gitu deh. Udah pernah diperiksa dong ya?

    1. Ah iya aku gak kebiasaan disclose harga kalau di blog ya *musti dibiasain..
      Kalau di Sasana Husada agak lumayan sih, terapi pertama kali aku bayarnya 160rb, itu 10rb untuk admin (buat kartu), 150rb untuk terapi (semacam tiap sesi bayar 50rb, tapi sebenernya tarifnya gak sama rata karena jenis alatnya beda-beda). Jadi ya tiap datang berikutnya, itu 150rb-an lah.. *mayan ya…

    1. Eh Klinik Adityawarman itu yang mana ya? Oh baru tahu di daerah Adityawarman sana ada juga fisioterapi lho.. biayanya berapa ya kalau di situ?

  2. Pengobatan seperti ini bukan yang model instant. Saya sampai bolak balik minimal 3x dulu untuk menuntaskan pengobatan

    haaa, saya adalah pasien fisioterapi yang AWOL :D
    sudah 3x tapi gak ada perubahan yang lumayan.. akhirnya kabuuurr :D

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s