Malam Dua Puluh Satu

P40

Selamat malam, hai kamu yang kebetulan memang membaca tulisan ini pada malam hari.

Aku memang ingin mempersembahkan rangkaian kata ini untuk malam hari, dan untuk tanggal dua puluh satu, meski mungkin ketika selesai kutulis dan akhirnya ditayangkan, tanggal dan hari sudah berganti. Biarlah dalam tulisan ini aku ingin menjadikan hari dan tanggal seperti yang aku mau, dan bolehlah dalam pikiranku aku bermain dan menguntai kata-kata seolah aku semacam pujangga.

Kenapa tanggal dua puluh satu?
Sederhana saja, aku ingin menandai tanggal-tanggal ini dari bulan ke bulannya, sebagai pengingat waktuku di dunia. Bukan sambil ditemani rasa susah dan gundah ya, malahan aku ingin bisa lebih berlapang dada dan lega menjalani hari-hari dan masa-masa hidupku. Ini adalah awal dari semacam komitmen diri, aku harus lebih sadar akan pergerakan sang waktu, dan biarlah malam dua puluh satu menjadi penanda-penanda dalam guliran waktu yang tidak ada hentinya ini.

Banyak hal telah terjadi, banyak hal ingin kukenang, tetapi tak semua kenangan itu terukir rapi dalam ingatanku. Sayang, memang. Saat aku ingin memanggil kenangan itu, sering kali malah aku sudah kehilangan rincian rasa, suka dan bahagia yang aku cari.

Aku mengibaratkan rasa bahagia dalam kenangan itu seperti bara.
Menghangatkan, terasa ada, tetapi tidak membakar dan berkobar seperti api yang menyala. Mungkin memang lebih baik adanya seperti itu saja?
Atau mungkin lebih tepat diibaratkan saja sebagai bentuk kristal yang indah?
Adakah kristal-kristal dari ingatan akan kebahagiaan yang pernah dilalui ini indah untuk dilihat, sungguh berharga, tetapi tak lagi terasa sama seperti dahulu, karena hanya dapat dilihat saja tanpa bisa kita rasakan kebahagiaannya? Mungkin kristal-kristal ingatan ini adalah jejak gambar dan foto dari kenangan masa lampau yang telah kita jalani.

Adalah sebentuk atau mungkin sejumlah bara; bukan ingatan yang mengkristal; yang masih terus terjaga agar masih menyala. Waktu berlalu, angin kadang meniup dan menyalakannya, tetapi selalu kembali tenang dan membara seperti adanya bara.

Jaman berubah, situasi dan keadaan tak selamanya akan tetap tenang, sampai berapa lamakah bara ini akan bertahan? Kapankah akan kutemukan situasi yang membuat bara ini dapat berkobar kembali dan menjadi rasa yang sungguh nyata dapat aku alami lagi?

Kadang aku berpikir bahwa bara itu akan mati juga, jika aku abaikan begitu saja. Tapi nyatanya tidak. Bara ini masih membara, menunggu waktunya ia dapat kembali membesar dan berkobar. Jika memang waktunya tiba, akan sanggupkah aku menahannya sebelum bara ini malah menghancurkan diri?

Ah, kembalilah aku pada angan di awal. Biarlah aku menjalani masa waktuku dengan lega. Biarlah bara itu tak menjadi beban, biarlah tetap menghangatkan. Kalau memang waktunya tiba untuk kembali berkobar, biarlah demikian adanya. Tak guna aku penuh beban dan kekalutan memikirkan sebelumnya. Berjaga dan berwaspada, tentu saja, tetapi dengan lapang dada.

Selamat malam, malam dua puluh satu.
Sampai jumpa di malam dua puluh satu berikutnya..
Selamat malam..

Kembali Berlari

P162

Selamat tahun 2012!! Karena sudah memasuki bulan kedua, kalau aku mengucapkan selamat tahun baru rasanya sudah agak basi ya. Makanya ucapan di atas tadi sengaja aku pilih supaya lebih pas didengar. Oh ya, selain itu juga, selamat datang bulan kedua tahun 2012, bulan Februari, yang sudah memasuki hari kedua! Tidak terasa memang Januari sudah berlalu begitu saja ya. Tiga puluh satu hari sudah hilang dari kalender tahun 2012 ini.. Hmm, apa saja yang terjadi selama bulan Januari kamu?

Tidak lupa juga, kini Tahun Naga telah juga dimulai karena Sin Cia memang sudah lewat. Selamat tahun baru Implek juga ya! Oke, jadi ucapan-ucapan selamat ini semua aku borong langsung ya di post pembuka 2012 ini. Semoga sehat selalu, sukses, sejahtera dan bahagia semua. 

Ah ngomong-ngomong tentang sehat, sekarang aku kembali ke olahraga lari lho. Ketahuan jelas kan alasan kenapa foto yang dipajang adalah foto sepatu di atas.*hehe* 

Iya, jadi setelah vakum nyaris setahunan (berdasarkan record yang tersimpan dalam aplikasi Nike+ yang gunakan), akhirnya diriku memantapkan lari-lari lagi. Ada beberapa alasan dan faktor pendorong lainnya. Pertama, ingin olahraga, biar lebih sehat atau minimalnya kesehatan bisa lebih terjaga. Lalu ingin juga membangun stamina (biar habis rutin lari nanti bergabung dengan parkour), sekalian membentuk badan (dengan membakar lemak, maunya), dan biar gak melulu berada di kantor sampai malam, lembur ataupun gak lembur gak jelas. Hmm, yang terakhir ini masih agak di ambang keraguan "iya atau gak sih" karena kenyataannya blog post ini pun ditulis dan dirapikan di komputer kantor.. Hahaha..

Jadi untuk semakin mendukung niat kembali berlari ini, dimulailah realisasinya dengan membeli sepatu baru. Haha, gaya ya? Tapi ya.. ini karena impulsif juga dan karena banyak pembenaran-pembenaran diri bahwa dengan sepatu baru pasti akan jadi lebih semangat berlari, lebih nyaman pula, dan ini adalah investasi sekaligus untuk pendorong semangat berlari. Ya pokoknya, sudah dibelilah sepatu baru itu, fotonya ya seperti yang dipajang di atas. 

Lalu bagaimana kabar berlarinya? Syukurlah, ternyata niat kembali berlari ini terdukung oleh sejumlah teman di kantor yang memang punya keinginan yang sama untuk olahraga lari, dilakukan malam hari karena memang tidak sempat dilakukan pagi hari. Jadi kami memilih lokasi untuk berlarinya di seputaran GBK. Dan syukurlah, sejauh ini, sejak si sepatu baru dibeli, sudah dipakai tiga kali berlari dalam tiga minggu terakhir. Memang frekuensinya baru sekali seminggu, tapi ke depannya semoga bisa bertambah menjadi dua kali seminggu. 

Karena tulisan ini bukan review dari sepatu lari, kesan dari penggunaan sepatu baru sih singkat saja, enak! Ringan dan empuk! Dulu itu sepatu lariku yang lama agak mulai menyakiti telapak kaki, nah hal itu tidak aku alami bersama sepatu baru. Menyenangkan deh, dan semoga saja ini sungguh memicu untuk lebih sering berlari lagi. 

Memang kalau berlari, tantangan terbesarnya adalah mengalahkan diri sendiri, segala pesimistis dan kemalasan yang memang ada potensialnya di dalam diri. Hari ini saja, misalnya sudah berhasil lari dalam jarak yang lebih jauh dari catatan minggu lalu, tapi kalau dirinci, sebenarnya banyak juga jalan kakinya, bukan lari terus-terusan hahaha...

Rencananya minggu depan akan mencoba berlari seminggu dua kali seminggu, dan pelan-pelan juga target jarak tempuhnya akan ditambah terus. Semoga saja ini berlangsung lancar ya! Mohon doanya supaya di bulan Mei nanti tubuh sudah lebih fit (in shape) juga. *kedip* (Kenapa bulan Mei, karena ada teman menikah di bulan itu haha.. but that's for another story). 

Selamat malam kalian semua!
Sudahkah kamu memulai resolusi berolahraga di tahun 2012 ini?

This Is Your Life

This morning I happened to stumbled on a website page containing The Holstee Manifesto Lifecycle Video. I have seen it before, I think I shared it in Twitter and/or Facebook, then I get on with life. And forgetting about the video and the whole manifesto.

And actually, I too have a printed image of Holstee Manifesto on my dest at work. I just searched my desk to check where on earth did I put it, and apparently it was glued on my desk partition, and was hidden by two or three other papers and notes I stick.. and got forgotten. 

So perhaps this morning, it's a gentle reminder from the universe, to me and what am I doing with my life. Have I been doing things that I love? And have you?

Here, have a look of the video, and then check this page, the official site where you can read more thoroughly about Holstee Manifesto. 

Have a good morning, and have a great life!

 

This is your life. Do what you love, and do it often. If you don’t like something, change it. If you don’t like your job, quit. If you don’t have enough time, stop watching TV. If you are looking for the love of your life, stop; they will be waiting for you when you start doing things you love. Stop over analyzing, all emotions are beautiful. Life is simple. When you eat, appreciate every last bite. Open your mind, arms, and heart to new things and people, we are united in our differences. Ask the next person you see what their passion is, and share your inspiring dream with them. Travel often; getting lost will help you find yourself. Some opportunities only come once, seize them. Life is about the people you meet, and the things you create with them so go out and start creating. Live your dreams and wear your passion. Life is short.

 

Cerita tentang Perawatan Diri

Selagi kita hidup memang perlu deh namanya merawat-rawat diri. Nggak cuma demi penampilan luar saja lah, karena menurutku perawatan diri itu bersangkut paut dengan banyak hal, misalnya saja kesehatan pribadi, kesejahteraan atau ketenangan pikiran kita, dan juga tentang kebahagiaan kita. 

Sesungguhnya perawatan diri itu bentuk tanggung jawab dan kepedulian kita, ya terhadap diri kita sendiri.  Misalnya saja gini ya, pola makan yang teratur, dan minum air putih yang cukup. Pernah memperhatikan apa sih reaksi badan kita kalau kekurangan cairan? Saat bibir atau kulit jadi kering, itu sebenernya udah lumayan parah dan telat deh, afaik. Kasihan kan badan kita..

Lalu, soal pola istirahat. Ini nih yang buatku paling ‘menantang’. Idealnya tubuh kita beristirahat cukup dong.  Aturan generalnya, buat mendapatkan kondisi badan yang sehat itu ya, olahraga cukup, makan dengan menu yang ‘baik’, dan istirahat cukup. Enggg.. secara aku pun masih tidurnya malem melulu, dan memaksa diri bangun pagi buat ngantor tiap hari kerjanya.. jam istirahatku sungguh masih belang-bentong. Apalagi kalau lagi menuruti mood suka-suka, keluyuran sampai tengah malam demi mencari ketentraman hati kayak sekarang gini... *lah malah curcol*

Baiklah, kembali ke soal perawatan diri. Semingguan ini jadi agak lebih perhatian sama kulit gara-gara minggu lalu diajak ke acaranya Vaseline Cocoa Glow. Seperti sudah aku sebut di atas, banyak minum air putih tentunya adalah langkah dasar buat kulit sehat, dan sebenarnya buat kesehatan secara general juga. Kasihannya, keringnya kulit jaman gini bukan tersangkut kurangnya asupan cairan aja, tapi juga kondisi di luar tubuh kita. Kantor kamu di ruang AC kan? Kamar dan rumah kamu juga? Nahh itu juga bisa membuat kulit jadi cepat kekeringan lho. 

Image_4

Nggak salah kalau kita bantu merawat kulit dari luar juga. Selama ini aku pun sudah ada
stock body butter yang (harusnya) dipakai setiap habis mandi. Eh minggu lalu baru diceritakan, sebenernya body butter itu sangat nempel di kulit kita bagian luar saja, tapi gak di lapisan lebih dalamnya. Body butter cocok buat di daerah yang lebih dingin, gitu katanya. Nah kalau si lotion cocoa glow ini, ternyata sudah dibuat dengan memadukan teknologi dan juga kekayaan alam seperti cocoa dan coconut. Dampaknya? Si lotion cocoa glow akan mampu masuk sampai ke lapisan dalam kulit, tapi juga gak ketinggalan melembapkan lapisan tengah dan terluar kulit – jadi bertahan di layernya masing-masing. Kelembapan kulit jadi maksimal to the max deh. 

Apa sih sensasinya menggunakan lotion cocoa glow ini? Buatku, yang pertama dan paling kentara adalah wanginya yang lucu. Tepatnya mungkin nikmat dan menyenangkan. Nikmat soalnya wangi cocoanya itu lho, unusual, tapi soothing. Di awal-awal malah aku ada bawaan untuk menggigit lengan sendiri *ceritanya melapar mencium wanginya hahaha.. Selain cocoa, sebenarnya campuran wanginya ada juga kelapa dan vanilla (dan entah apa lagi). Ada temanku yang sempat menyangka ini wangi kopi segala kok.. Hihi,  untuk soal wangi, memang harus coba dan merasakannya sendiri deh. 

Kedua, si lotion cocoa glow ini enak nempelnya ke kulit, dan enak pula untuk dioleskan berulang. Ya lho, teksturnya buatku gak terlalu cair, tapi gak terlalu kental juga. Pas saja buat dioles dan cukup cepat menyerap. Aku bisa cukup cuek lho langsung mengutak-ngutik touch screen gadgetku habis pake lotionnya (setelah olesannya rata ya). Berasa deh lembapnya kalau habis pakai cocoa glow ini, tapi gak mengganggu gitu. 

Photo_2

Kapan lagi nih bisa foto bareng dengan Dewi Sandra ^^

Di event ngobrol santai bersama brand manager Vaseline Cocoa Glow dan Dewi Sandra (selaku brand ambassadornya) minggu lalu itu, aku sempat langsung mengalami sendiri juga Spa Cocoa di tangan dan kakiku. Langkah-langkah singkatnya, permukaan kulit dibersihkan dengan cleanser khusus, lalu dilumuri cairan cocoa, dibersihkan lagi lalu diolesi lotion cocoa glow. Sebelum dan sesudah perawatan ini, kadar kelembapan kulit diukur dengan alat khusus. Aku lupa angka standar kelembapan idealnya berapa, pokoknya waktu itu ditemukan kalau kondisi kulit kakiku kering banget, dan habis perawatan langsung dong jadi jauh lebih lembap – lewat sedikit di atas standar malah. Kalau kulit tanganku sih, kebetulan karena sebelumnya sempat mencoba si lotion cocoa glow, gak terlalu kering, tapi jelas sesudah perawatan, kelembapannya jadi naik juga tuh. *btw foto pas lagi spa-nya jelek ah.. jadi gak di upload* 

Kebiasaan lama memang susah diganti, tapi bukannya gak mungkin berubah. Seminggu terakhir ini aku jadi lebih ingat untuk memakai lotion di badan, bahkan suka oles ulang kalau-kalau inget. Kulitku gak secara mendadak jadi lebih bersinar cerah sih, tapi mulai terasa kalau jadi lebih supple lho (bahasa Indonesianya, kenyal kali ya?). Moga-moga aja kebiasaan ini bisa terus tertanam, dan menjadikan kulitku jadi makin ‘cantik’. Ya lah, yang model gini gak bisa kita selalu mengharapkan hasil instan, hehehe.. 

Sebelum lupa, ada satu hal. Meski kemasannya berwarna coklat, dan bahan bakunya terbuat dari cocoa, lotion cocoa glow ini gak membuat kulitmu jadi lebih coklat lho ya. Hayo jangan sampai salah kaprah karena masalah warna.. hihihi..

Photo_1

Oke, jadi menurutku, perawatan kulit itu selangkah menuju perawatan total  diri kita masing-masing. Dan, perawatan yang disadari lebih dini, bakal jadi investasi yang baik buat masa depan. Kayak perawatan kulit gini, menurutku bisa membantu agar kebaikan kualitas kulit lebih “long lasting”. Kalau kamu bertanya, perawatan apa lagi sih yang kita butuhkan? Beda-beda untuk tiap orangnya lah ya. Dan langkahnya bisa aja jadi beda-beda. 

Contohnya aku.. Emm.. kalau soal harus istirahat cukup dan menghindari tidur terlalu malam, aku masih bandel banget nih. Tapi paling nggak, aku sekarang jadi lebih sadar harus banyak minum air putih (mengimbangi asupan kopi) dan menggunakan pelembap kulit (mengalihkan topik pembicaraan dari soal tidur dan olahraga hahaha). Moga-moga, kebiasaan-kebiasaan baik lainnya bisa juga segera menyusul. 

Ayo berbagi, apa sih kebiasaan baik yang sedang kamu kembangkan?

*Foto terakhir: Foto barengan dengan teman-teman yang hadir di acara Vaseline Cocoa Glow minggu lalu :)

Image_3

 

 

Cerita tentang Makaroni Panggang

Makaroni panggang resep rumahku sebenarnya tidaklah rumit. Kebanyakan bahannya adalah bahan instan yang mudah didapatkan di supermarket. Pasta jenis makaroni, daging olahan aka corned beef, keju cheddar, susu kalengan, dan telur. Semuanya bahan yang lumrah dipakai untuk membuat makaroni panggang. Proses pembuatannya pun sesederhana mencampur rata semua bahan itu, ditambah bumbu, lalu dipanggang. 

Img-20110831-00038
Kira-kira seperti ini nih foto jadinya satu loyang makaroni panggang resep rumahku.

Tapi di balik semua kelumrahannya, makaroni panggang resep rumahku itu spesial. Spesial karena random, karena acak, karena kerap tidak sama. Random, karena tidak butuh event khusus yang sedang dirayakan untuk menjadi alasan membuat makaroni panggang ini. Acak, karena kerap kali ada saja bahan yang harus diganti karena ketiadaan stock bahan tertentu di supermarket. Dan hasilnya, tentu masing-masing rasa makaroni panggang menjadi beda, tidak sama. Oh ya, biasanya juga bahan pengganti yang aku gunakan tidak ditakar. Cukup dikira-kira saja. Makin random kan makaroni panggangku?

Aku pernah membawakan makaroni panggang ini untuk seorang teman yang sedang sakit pilek, batuk, atau demam (sudah lupa sakitnya dia apa). Dia senang karena kubawakan makaroni panggang ini, tapi dia memakannya dengan diam-diam saja. Aku sampai protes, kok gak ada reaksi sih waktu makan makaroninya.. hiks. Dia bilang, yaahh soalnya semua makanan terasa hambar saat dia sakit..  -_- Benar juga sih. Aku jadi tak bisa protes lebih lanjut. Ya sudahlah..

Untungnya setelah itu, masih di kesempatan yang sama, datang dua teman lain yang begitu antusias mau mencicip makaroni panggang buatanku. Mereka sampai bela-belain datang meski sudah malam. Memang kami anak malam, kali ya, ngumpulnya sering kali menjelang jam tengah malam melulu. Reaksi mereka waktu mencoba makaroni panggangku? Luar biasa! Aku sampai diomel-omeli karena merusak rencana diet yang satu, dan dikeluhkan juga karena kok gak bisa berhenti pas lagi makan makaroni panggang itu. Hihihi.. aku senang. 

Dampak lebih lanjutnya? Kalau ketemu mereka, pasti aku ditanya, kapan dong bikin makaroni panggang lagi? Hahaha.. Aku sendiri cuma membuat makaroni panggang itu kalau sedang pulang ke rumahku di Bogor, karena peralatannya tersedia kalau di rumah saja. Sedangkan aku tidak setiap minggu juga pulang ke Bogor...

Pernah di lain waktu, aku membawa makaroni panggang itu ke kantor. Ada beberapa rekan yang beruntung mencoba mencicipi makaroni panggang itu. Kata mereka, makaroninya sangat penuh dosa. Maksudnya sih dosa lemak, kayaknya. Dan karena cuma kebagian sedikit, dosanya satu lagi ya karena 'kurang banyak'. Hihi.. Pernah juga kubawa jadi bekal ke Bandung, dan dimakan dalam kondisi dingin. Rasanya kalau sudah dingin pun masih enak, apalagi kalau dipanaskan. Apalagi kalau kondisi baru masak dari panggangan... beuhhhh...

Jadi, apa sih moral ceritanya ini?

Aku cuma terpikir saja. Senang lho, bisa membuat orang lain senang. Tapi gak bisa juga sampai (selalu) mengorbankan diri sendiri demi kesenangan orang lain. Aku gak bisa pulang dan membuat makaroni tiap minggu.. ya mohon maklum. Setelah sempat tiga kali berturutan membuat makaroni itu, kok aku langsung jadi "kenyang" lho pas memikirkan memanggang makaroni itu lagi. Dan lagi. Dan lagi... *weww..

Bagaimana kalau aku dibayar untuk membuat makaroni itu? Kayaknya akan jadi beda deh. Beda dalam berbagai hal, termasuk rasa kesenanganku sendiri saat membuat makaroni panggang itu. Aku jadi terikat kewajiban membuat makaroni yang enak, yang konstan, yang pasti takarannya, yang tidak hancur dan patah-patah saat dibawa, yang warnanya bagus, yang kematangannya sempurna... Mmmm...

Ah, biarlah kondisinya berjalan seperti apa adanya sekarang ini dulu ya. 

Img-20110901-00046

Moga-moga kamu bisa beruntung mencoba makaroni panggangku kapan-kapan. 
Aku berharap kamu menyukainya :). Oh ya, kalau mau belajar membuatnya, yuk kapan-kapan. Kamu sumbang bahannya juga boleh lho.. hihi..

So, good night, now.. ^^

You Are

When you don't need to look at other's blog or writing, and you are able to write out what's in your mind... I think that is the time when you know yourself more. Or, perhaps, that is the time when you are interacting with your own self and getting to know yourself even better. Your time of your own.

Me-time. 

I having a me-time session as of now. In a corner of a coffee shop, accompanied by melancholic songs and a cup of hot (now already warm) ginger milk. I had a rather tense day, and I find this 'activity' helps to loosen my nerves. What rather bothers me now is actually how I will get home later on. We'll just see.

*Just another short note on a September night. 

 

Sebuah Gambar dan Racauan Siang Hari

Capture14_38_0
Foto ini aku temukan di antara sekian ribu backup file foto BlackBerry yang kusimpan di external harddiskku. Ukurannya kecil, karena hanya merupakan capture dari foto yang dibuat seorang teman Twitter, Brama. Siang hari ini, entah kenapa foto itu memicuku untuk sekedar menulis, meracau, untuk menumpahkan isi kepala dan hati yang agak terlalu lama dipendam. 

Ingatan tentang kapan foto itu dibuat sudah agak samar. Yang jelas, sebuah hari Minggu di bulan Juni, di mana #30hariInstagram masih ramai dibicarakan dan dilakukan. Para aktivis #30hariInstagram itu dengan serunya mengadakan sesi pemotretan bertemakan fashion, dan didukung pula oleh gantibaju.com. Aku datang tidak dengan tujuan utama memotret sana-sini, melainkan sebenarnya hanya menemani Rahne yang ingin bersepeda ke Taman Suropati, lokasi pemotretan itu. 
Tak disangka tak dinyana, ternyata aku didaulat juga menjadi model, diminta berganti kaos dengan kaos yang tersedia. Tidak kutolak, lumayan kan buat pengalaman, dan menambah portofolio foto narsis.. Haha..  

Tapi foto yang satu ini, terus terang saja, memberi kesan yang berbeda buatku. Aku diminta berpose gagah. Sengajalah aku bertolak pinggang. Pasang muka galak. Katanya aku lebih cocok kalau dengan ekspresi gahar, garang, atau apalah kamu menyebutnya. Apalagi dengan latar belakang monumen dengan tekstur yang kokoh itu. Fokus potretnya sengaja dibuat lebih ke kaos yang kukenakan, supaya masih sesuai dengan tema fashion

Kalau ada hal-hal lain yang dipikirkan Brama saat mengambil gambar ini, aku tidak tahu ya. 

Aku suka dengan hasilnya. Foto ini terlihat keren, aku terlihat gagah, perkasa, macho, or whatever. Tapi buatku, ekspresi tanpa senyum itu bukanlah ekspresi galak. Ada kesendirian yang tersirat di sana. Ekspresi tegar di luar tetapi menyembunyikan apalah yang sesungguhnya ada di dalam jiwa.

Dasar mungkin ini memang akunya saja sih lagi sendu siang ini. :)

I stood tall and strong, but I hid myself behind my outer appearance. 
Hey we gotta keep walking and stay strong.
Please be with me when I fall.

Be strong. Life goes on. 
:)

From Jack Rabbit

I happened to get several vouchers of Jack Rabbit, courtesy of Jack Rabbit and also Goorme.com. They gave these vouchers during a food tasting panel I attended last June, where several bloggers and me tried their brunch menu. I should've made a review of the occasion, but one way or another I failed to manage so. I told myself that I'd just visit Jack Rabbit (JR) another time and write another review, and so here it is what you're reading.

I finally went to JR with a friend of mine who decided to contribute a little review as well. We went there on a Friday night, and that night Jakarta's traffic was bad, naturally. We arrived kinda late for dinner time, it's a while after 8, and the restaurant was already packed. Fortunately, we made our reservation beforehand, and indeed you'd better make reservation before you come, or otherwise you might have to wait quite a long time for an empty table. 

From what I knew in previous gathering, JR serves American food, such as grilled steak and burger. They provided pasta as well, and since I didn't really want a burger dinner, I ordered for Fettuccini Piselli with extra bacon, while my friend ordered the Jack Rabbit 10 oz BLT (Bacon, Lettuce, Tomato) Burger. I suppose my friend knows what's best to test from this kind of American restaurant.
As we waited for the food to arrive, we got complimentary dish: Bread and biscuit, with garlic butter and sweet butter. I didn't find the bread that special, frankly. But it's nice to have something to munch while waiting for the main course. Here's what the platter looks like, and the menu:

(download)

After fifteen and a half minutes, our food arrived.
Not too bad, especially considering how packed the restaurant was. 

04_pasta

My fettuccini's appearance is nothing too special. I could see the dried tomato and green peas under the cover of grated cheese, but my overall impression of the pasta was that the color is a bit pale. After tasting it though, I have to admit it was delicious!! Plenty of salmon and bacon flavored it well, and I must admit the (pork) bacon beats the other flavor hahaha.. But for me, it was yummy! Personal taste, mind you.
So now, what about the BLT burger?

My first impression of the BLT Burger was.. it was huge! And it surely made me wonder, would it be very special compared to other fast food burgers we know? Beforehand, my friend explained it well to me though: what would determine the specialty of the burger, is the grilled patty (the meat). Overcooked meat would be all dried up and lost all the juices, and hence, losing the yummy taste of the meat. What would make grilled meat delicious is, in fact, the fresh meat juice that comes out while it's being cooked (but not overcooked) - the liquid which most people thought as blood, but actually is not.

(download)

Burger's beef patty is commonly served well done or medium, and we ordered for medium for that night. As it was way too big for one's mouth to bite, the trick of eating a big burger is actually split the burger into two halves, and you bite each half in turn. We checked the meat after split it, and voila... it was deliciously juicy, just the right medium cooked level. And it was proven allright, such juicy burger wouldn't need extra sauce or mustard. Both of them were hardly touched at all, except for the french fries which was served with cheese on top. The french fries was nice, but nothing too special. But yeah the burger was good, and again, huge! XD

The ambience of this restaurant was okay, a bit noisy when you're inside, expectedly, that's why we picked a table located outdoor. We could still enjoy the lighting, looked at the transparent wall to kitchen, and saw the construction project across... such a metropolis view, don't you think?

(download)

Though I was pretty much full, I made up my mind to order the dessert, chocolate lava cake. It was so very yummy when I first tried it during food tasting panel. But that night, somehow, the lava cake lost some of its magic, not as delicious as I could remember. Or perhaps I was getting too full? Haha.. I didn't manage to finish it in the end, but I did eat all the ice cream. The lava cake came with a cute chocolate rabbit as decoration, you can see it in the picture:

(download)

The meal was quite pricey, the fact that we spent more than 400k. 150k alone was for the BLT, and Fettuccini was 95k with the extra bacon. Average price of drinks was about 25-30k, and the dessert was 55k. I suppose it is quite pricey because we pay for the ambience as well, but good thing that we had good time and experience during our visit this time, and of course, we got vouchers to cover most of the bill *grin* . I took the picture of the bill's holder, it says there "You've been served", which is not commonly seen in other places. I hope they'd continue to serve well with such bills holder like that.. hahahae..

(download)

If you want to know more of Jack Rabbit, you can check their website, which allows you online reservation, or their Facebook Page. I also found Jen's and Selby's review of the food tasting panel, if you want to know more about JR's brunch menu and food tasting. But overall for me, I had good experience with Jack Rabbit. One thing to remember, still, it's best to make reservation before visiting this restaurant. You don't want your appetite ruined for waiting too long, do you?

Here's their contact should you need it:

Jack Rabbit

Cyber 2 Tower Ground Floor
Jl. H.R. Rasuna Said X-5 No.13
Jakarta 12710

ph. +62 21 29021357
fx. +62 21 29021612
www.jackrabbitjakarta.com

Disclaimer: All pictures were taken using BlackBerry 8900, and edited in Picasa.
Please do not take or use any photos or content without permission.

 

Posterous theme by Cory Watilo