Tentang Memberi Tip

Kalau menurut KBBI daring, artinya tip adalah: persen (kepada pelayan restoran, pengangkat koper di bandar udara, pelayan hotel, dan sebagainya). Kalau mencari  arti kata ‘tips‘ di dalam KBBI, rupanya malah tidak ada. Padahal sering banget ya kita mendengar istilah “tips dan trik” ya? Menurut tulisan di sini sih “tips” itu diambil dari bahasa Inggris, makanya tidak ada di KBBI.

Anyway, saya dan suami bisa dibilang termasuk pasangan yang suka memberi tip. Bukan ‘suka’ karena hobi ataupun kebanyakan duit, tapi karena kami berdua merasa kalau memberikan apresiasi secukupnya bagi mereka yang sudah memberikan layanan, itu hal yang patut. Bukan wajib ya, jadi hakikatnya memang bebas kembali pada masing-masing orang.

Dulu waktu saya masih pacaran, yang suka memberi tip itu si suami saja. Saya sampai agak malu, kesannya kok saya pelit banget (karena dulu saya gak biasa memberikan tip :P). Nyaris setiap kali saya dan suami habis makan di restoran/di luar rumah, dia yang ingat duluan untuk memberikan tip, sementara saya maunya sih ngeloyor pergi begitu urusan bon tagihan selesai dibayarkan.

Sekarang ini saya sih sudah jauh lebih biasa untuk memberikan tip.

#JuliNgeblog Memberi Tip
Awas HP tertinggal nanti disangka jadi tip! *halah

Tadi malam kebetulan saya dan adik saya makan malam di suatu restoran di dalam mall. Restoran ini menghidangkan makanan Italia seperti pasta dan pizza, tapi lucunya brand restoran itu (katanya sih) berasal dari Jepang. Kami memesan tiga macam hidangan, satu buat saya, satu buat adik saya dan satu lagi buat dimakan bersama.
Kedatangan makanannya tidak berbarengan, makanan saya datang cukup cepat, yang paling pertama, lalu disusul makanan adik saya, dan terakhir si makanan tengah.

Sekilas, dari sisi waktu penyajian, mungkin seperti kurang meyakinkan untuk memberi tip ke karyawan. Tapi ada hal lain yang bikin saya dan adik saya setuju untuk meninggalkan tip. Dari pembawaan tiap-tiap waiter yang mampir ke meja kami, mereka terlihat ‘kesungguhannya’ untuk mau membantu. Ramah dan memang peduli dengan tamu.

Adik saya bilang, kalau di tempat dia bekerja/sekolah (yaitu di Makassar), jarang deh ketemu pelayan yang ramah seperti di restoran barusan. Yang ada, banyaknya pada terlihat malas, dan kalau ngomong suka bernada ketus/agak tinggi. Saya bilang, kalau ada yang kayak begitu di Jakarta, mungkin langsung menuai banyak komplain dari tamu, atau bahkan bisa ribut di tempat, haha.

Kalau kamu, suka meninggalkan tip tidak? Pantasnya memberi berapa sih?

*Siapa tahu berguna, di sini ada tabel untuk acuan jumlah tip yang baiknya di berikan, tapi karena sumbernya di forum expat, jadi bisa banget beda standar sih.

Advertisements

12 thoughts on “Tentang Memberi Tip

  1. But CMIIAW ya, bukannya udah masuk dalam service tax ya? Selain ada PPN, ada juga service tax, yang dimana kita memang “sudah” memberikan tip secara tidak langsung. :)

    1. Service tax berarti masih ‘pajak’ dong? Wah ini perlu ditelusuri ulang, haha.. Kalau tip di sini, dalam pengertianku sih ini ‘persen’ yang dikasih langsung ke waiter, gak lewat si restoran lagi.

    1. (((HARUS MESTI))) Iyaaa kemarin itu googling dikit soal tipping, beneran ada kasus pelaporan ke polisi karena soal tip yah haha.. Untung Indonesia beda dengan US, tapi gak untungnya jadi grey area banget. Selalu ada dua sisi lah dalam cerita 😝😝

  2. I leave around 10% tapi bisa ngasih lebih kalo ada persyaratan tertentu terpenuhi:

    1) Bill-nya gak seberapa. I may leave more.
    2) Service was extra good
    3) A special occassion. Misalnya, tadi naik taxi, gia ngasih tip Rp. 100K krn sopirnya emang baik dan what the heck.. lagi mau Lebaran doi.

    1. Kalau di restoran di Jakarta, aku nggak selalu kasih 10%, yah small change yang lagi ada saja 😅, tapi minimal 5K-10K gitu. Tip kalau di tempat pijat, baru sekitar 10% dari bill..
      Special occasion iya kalau ada rejeki lebih juga ^^

      Wah lagi di Indonesia nih? Happy holiday! 😁

  3. Tipping itu tergantung juga sama lokasi kita. Di beberapa negara tertentu, tipping ada yang dianggap menghina. Kalau di Jakarta, kalau service bagus banget, walaupun udah ada service charge, gue akan kasih extra, dan cara gue kasih extra seringkali adalah langsung ke tangan yang kasih gue excellent service tersebut (ini juga kalau bisa). Tapi kalau generally mereka bagus semua, gue taruh di meja. Soalnya pengalaman nih, seringkali kalo gue langsung taruh di meja, itu mata-mata dari para waitress, termasuk yg nggak ngelayanin gue udah jelalatan duluan hahahaha.

    1. Eh di negara mana yang bisa dianggap jadi menghina ya? *ntar cek di google deh* Wah kalau aku selama ini positive thinking sih saat menaruh di meja atau dompet bill, mikir pasti akan tersampaikan ke waiter yang membantu tadi. Kalau diambil oleh yang gak bantu melayani sih sebel dan kasian amat ya >.<

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s