Mungkin Ada Kalanya

Mungkin ada kalanya kita perlu menangis.

Ketika masih kecil, mencuci rambut atau keramas bukan merupakan hal yang selalu menyenangkan buat saya. Ada kalanya shampo ataupun busanya masuk ke sudut mata, membuat pedih. Dan sebagai reaksi natural anak kecil, saya lalu menangis berkeluh dan mengomel kepada mama yang mencuci rambut saya (waktu kecil banget dulu lah ya).

Kalau dipikir, menangis itu memang reaksi tubuh yang normal, karena ingin mengenyahkan benda asing yang masuk ke mata, apalagi benda asing itu membuat mata pedih pula.

Mungkin ada kalanya kita perlu menangis.

Tears

Tadi malam saya berkesempatan hadir di TEDxKemang yang mengundang Iwan Setyawan sebagai salah satu pembicaranya, tepatnya sebagai pembicara terakhir yang menutup sesi rangkaian acara TEDxKemang. Mas Iwan menutup talk-nya dengan sesi meditasi singkat. Dalam meditasi tadi kami diajak untuk menikmati pola nafas kami, sesuatu yang kita “take for granted” dan jarang sekali kami nikmati dan syukuri. Menikmatinya sebagaimana kami menikmati me-time.

Lalu kami diarahkan untuk mengingat seseorang yang sangat kita kasihi. Memutar kembali ingatan akan momen-momen berharga yang pernah kami jalani bersama.

Arahan mas Iwan masih berlanjut, dan tiba-tiba berbelok untuk membayangkan, bagaimana kalau orang yang kita kasihi tidak dapat kita jumpai lagi? Perpisahan. Perpisahan yang bukan sementara. Kematian. Bagaimana?

Antara setengah sadar dan tidak sadar, air mata saya mengalir. Diri saya menolak. Tidak mau, tidak rela jika hal itu terjadi. Saya sampai protes dalam hati, kenapa? Kenapa sih meditasi yang katanya menikmati nafas kok jadi diarahkan ke kesedihan seperti ini?

Pertanyaan saya terjawab ketika mas Iwan menyudahi meditasi singkat itu. Masih berlanjut dari sharing sebelum meditasi, mas Iwan berkata… Ayahnya telah meninggal tiga bulan lalu. Syukurlah mas Iwan dan ayahnya masih sempat menikmati waktu bersama sebelum kepergian sang ayah. Tapi sekarang tak mungkin lagi.

Mencinta, adalah sekarang. Love, before then.

Tertampar. Seperti peringatan untuk bertindaklah sekarang sebelum terlambat.
Jangan sampai ada penyesalan yang terlalu dalam…

Mungkin ada kalanyanya kita perlu menangis.
Alangkah baiknya jika tangisan itu bukan tangisan penyesalan..

Sudahkah kamu mencinta hari ini?

“There is sadness in tears. They are not the mark of weakness but of power.
They speak more eloquently than ten thousand tongues.
They are the messengers of overwhelming grief, of deep contrition, and of unspeakable love.”
– 
Washington Irving –

Gambar dan quote diambil dari sini.

Advertisements

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s