Dini Hari Senin, Pagi Hari Dua Puluh Lima

Sejatinya, dini hari di suatu hari Senin itu dihabiskan dengan tidur nyenyak, istirahat yang cukup untuk menghadapi hari kerja dan minggu yang baru. Ya gak sih? Tetapi barusan melihat sekilas linimasa Twitter, sepertinya sih bukan saya sendirian yang masih berjaga, walaupun untuk alasan yang sepertinya sangat jauh berbeda. Pagi ini sedang ramai nian yang menonton pertandingan sepakbola Piala Eropa. Sementara saya? Habis berbenah pikiran dan membaca ke sana kemari di belantara maya (termasuk juga milis, twitter, blog orang, dll.) Dan marilah, sebelum akhirnya menyerahkan diri pada kantuk dan kebutuhan tidur yang memang sudah pantas dan sewajarnya, saya ingin mencurahkan beberapa hal penting yang baiknya tidak ditunda-tunda lagi (jangan sampai bernasib seperti sekian jumlah draft post basbang yang terekam dalam otak maupun blog saya).

Beberapa hari yang lalu saya menerima kabar bahwa nenek saya, yang saya biasa panggil Oma, telah meninggal dunia. Tepatnya pada hari Rabu tanggal 20 Juni 2012, 11.35 WITA (kemudian tercatat secara resmi pukul 11.40 WITA). Hanya dalam hitungan menit, ayah saya sudah mengabarkan peristiwa ini kepada saya via BBM, dan kemudian menyebar juga ke pihak keluarga dan teman-teman kami. Malam hari itu juga saya berangkat ke Makassar, tempat di mana Oma saya disemayamkan dan keluarga besar saya dari pihak ibu sudah berkumpul. Adik saya juga datang dari Surabaya pada malam yang sama, kami berdua tiba di Makassar lewat tengah malam karena penundaan jadwal keberangkatan penerbangan kami.

Selama dua hari, Rabu dan Kamis, rumah tante saya yang juga merupakan rumah Oma, senantiasa ramai oleh kunjungan relasi, kerabat dan saudara, yang mengucapkan bela sungkawa dan ikut memberikan doa-doa bagi Oma, baik menurut agama Buddha (agama Oma saya) maupun secara Kristiani, seperti yang dianut keluarga besar kami.

Pada hari Jumat siang hari saya bersama keluarga besar mengiring Oma ke tempat peristirahatannya  yang terakhir di Pemakaman Bolangi, Makassar. Dan pada waktu pemakaman ini pun banyak kerabat yang ikut serta baik dalam upacara doa di rumah maupun di pemakaman, meskipun cuaca sangat panas dan terik. Untunglah ketika Oma sudah selesai didoakan dan makamnya mulai dibenahi, cuaca mulai menjadi lebih teduh bahkan cenderung mendung.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh teman-teman yang sudah mengirimkan ucapan duka dan dukungannya kepada saya dan keluarga besar saya, melalui media apa pun. Segenap perhatian, pengertian, dan dukungan teman-teman semua, sangat berarti bagi saya dan kami sekeluarga. Our prayers to you all, as well. 

I personally believe that she’s in a better place now.
May her soul rest in peace, together with my other grand parents, and where all the good people go.

Untuk segala sesuatu ada waktunya. Dan saya juga percaya waktu-Nya adalah yang terbaik.
Be sure, though, to make the best of every time that you have.
This is a reminder for us all, including me.

Well then now, mari kita tidur sejenak, dan menyambut hari Senin yang lebih baik lagi.

Terima kasih semuanya.

Jakarta, dini hari.

Advertisements

10 thoughts on “Dini Hari Senin, Pagi Hari Dua Puluh Lima

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s