Malam Dua Puluh Satu

P40

Selamat malam, hai kamu yang kebetulan memang membaca tulisan ini pada malam hari.

Aku memang ingin mempersembahkan rangkaian kata ini untuk malam hari, dan untuk tanggal dua puluh satu, meski mungkin ketika selesai kutulis dan akhirnya ditayangkan, tanggal dan hari sudah berganti. Biarlah dalam tulisan ini aku ingin menjadikan hari dan tanggal seperti yang aku mau, dan bolehlah dalam pikiranku aku bermain dan menguntai kata-kata seolah aku semacam pujangga.

Kenapa tanggal dua puluh satu?
Sederhana saja, aku ingin menandai tanggal-tanggal ini dari bulan ke bulannya, sebagai pengingat waktuku di dunia. Bukan sambil ditemani rasa susah dan gundah ya, malahan aku ingin bisa lebih berlapang dada dan lega menjalani hari-hari dan masa-masa hidupku. Ini adalah awal dari semacam komitmen diri, aku harus lebih sadar akan pergerakan sang waktu, dan biarlah malam dua puluh satu menjadi penanda-penanda dalam guliran waktu yang tidak ada hentinya ini.

Banyak hal telah terjadi, banyak hal ingin kukenang, tetapi tak semua kenangan itu terukir rapi dalam ingatanku. Sayang, memang. Saat aku ingin memanggil kenangan itu, sering kali malah aku sudah kehilangan rincian rasa, suka dan bahagia yang aku cari.

Aku mengibaratkan rasa bahagia dalam kenangan itu seperti bara.
Menghangatkan, terasa ada, tetapi tidak membakar dan berkobar seperti api yang menyala. Mungkin memang lebih baik adanya seperti itu saja?
Atau mungkin lebih tepat diibaratkan saja sebagai bentuk kristal yang indah?
Adakah kristal-kristal dari ingatan akan kebahagiaan yang pernah dilalui ini indah untuk dilihat, sungguh berharga, tetapi tak lagi terasa sama seperti dahulu, karena hanya dapat dilihat saja tanpa bisa kita rasakan kebahagiaannya? Mungkin kristal-kristal ingatan ini adalah jejak gambar dan foto dari kenangan masa lampau yang telah kita jalani.

Adalah sebentuk atau mungkin sejumlah bara; bukan ingatan yang mengkristal; yang masih terus terjaga agar masih menyala. Waktu berlalu, angin kadang meniup dan menyalakannya, tetapi selalu kembali tenang dan membara seperti adanya bara.

Jaman berubah, situasi dan keadaan tak selamanya akan tetap tenang, sampai berapa lamakah bara ini akan bertahan? Kapankah akan kutemukan situasi yang membuat bara ini dapat berkobar kembali dan menjadi rasa yang sungguh nyata dapat aku alami lagi?

Kadang aku berpikir bahwa bara itu akan mati juga, jika aku abaikan begitu saja. Tapi nyatanya tidak. Bara ini masih membara, menunggu waktunya ia dapat kembali membesar dan berkobar. Jika memang waktunya tiba, akan sanggupkah aku menahannya sebelum bara ini malah menghancurkan diri?

Ah, kembalilah aku pada angan di awal. Biarlah aku menjalani masa waktuku dengan lega. Biarlah bara itu tak menjadi beban, biarlah tetap menghangatkan. Kalau memang waktunya tiba untuk kembali berkobar, biarlah demikian adanya. Tak guna aku penuh beban dan kekalutan memikirkan sebelumnya. Berjaga dan berwaspada, tentu saja, tetapi dengan lapang dada.

Selamat malam, malam dua puluh satu.
Sampai jumpa di malam dua puluh satu berikutnya..
Selamat malam..

Advertisements

2 thoughts on “Malam Dua Puluh Satu

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s