Scuba Diving and Me

Tulisan ini lumayan agak sangat panjang, jadi bersiaplah ya :) Kenapa akhirnya saya mau menulis soal diving itu berkat membaca blognya Si Mbok Venus di sini, dan baca tweet-tweetnya Eka yang lagi super excited habis fun diving di Derawan. Ini salah satunya:

Jadi ya… Tadi gue scuba diving di #GA_Derawan . Terus pas selesai dan naik ke kapal, gue brebes mili gitu… Cakep pake banget!

– (@ceritaeka) September 20, 2013

Okay jadi cerita saya ini terjadi sudah lumayan lama, tepatnya di tahun 2009, waktu itu sudah ada Facebook dan saya sudah punya akun Facebook (tapi sepertinya saya belum join Twitter waktu itu). Dan berkat Facebook, saya bisa menggali-gali foto di album Facebook yang lama-lama banget untuk ditaruh di sini hehehe.

Sedikit cerita tentang awal mulanya.. kita mundur sedikit dulu nih. Awal tahun 2009 itu saya pengen banget dan minat banget punya komputer dari brand Apple. Saya jadi bergabung di sebuah forum penggemar komputer Apple, dan suatu hari saya ikut gatheringnya. Lupa bagaimana detailnya, ternyata ada satu orang yang ‘nyambung’ sama saya, dan berasal dari kota sama, and so on dst. Nah orang ini, sebut saja R, yang ‘menyetani’ saya buat coba diving. Kebetulan dia sendiri seorang diver, kayaknya sudah pernah diving ke mana-mana, dan dia berteman dengan pemilik sebuah diving center bernama “Bubbles Dive Center”.

‘Marketing’ alias promosi dari si R emang jago sih. Dia bilang saat itu kursus diving-nya sedang diskon (kayaknya karena lagi musim pameran Deep and Extreme Indonesia) jadi kalau ditunda lagi bakal rugi lho, terus ini dapat PADI license (waktu itu saya gak ngerti ini apaan, ternyata international diving license), apa lagi saya lupa. Anyway, sebenarnya saya ragu karena harganya tetap lumayan di kantong seorang  ‘first jobber’, tapi karena bisa dicicil dan somehow saya dapat rejeki extra uang saku.. OK I’ll take it. Challenge accepted!

Saya ‘mendaftar’ via teman saya itu, sekitar bulan Maret, dan pada tanggal 30 Maret, saya menerima email pengumuman pilihan kelas. Karena satu dan lain hal, saya memilih untuk mengambil kelas di bulan Mei, dengan jadwal-jadwal kelas tanggal 12, 13, 14 dilanjutkan tanggal 18, 19, 20 (total ada 6x pertemuan) dan  weekend trip tanggal 23 – 24 Mei 2009 untuk trip ujian kelulusan. Jadi total jendral hanya 2 minggu saja untuk mengikuti kelas diving ini.

So the lessons began. Standard PADI, ada kelas teori dulu, ada test/quiz kecil untuk menguji pemahaman teori dulu, barulah bisa nyemplung ke kolam. Kelasnya berlangsung pada malam hari, jadi yang sudah bekerja pun bisa ikut dengan meluangkan waktu sepulang kerja. Kalau gak salah kelas saya waktu itu terdiri dari 4 cowok dan 4 cewek, dengan background berbeda-beda, ada yang masih kuliah, ada yang kerja (mostly sih kerja ya), ada yang juga peminat dunia fotografi (Lucky for us! Jadi waktu trip lumayan banyak foto-foto hahaha).

First theory class.. saya kecele dengan durasi kelasnya. “Palingan setengah jam kelar lah” begitu pikir saya. Ternyata kelasnya.. satu setengah jam ada kali ya. *lupa juga* (Dan sekarang udah lupa juga teori-teori yang sudah dipelajari waktu itu *hiks*) Kami menggunakan manual book asli dari PADI dan langsung meng-cover beberapa chapter dalam satu malam. Ada juga penggunaan media video untuk penjelasan beberapa hal. Sempat juga kami menonton rekaman hasil trip/contoh dokumentasi diving.. Aaakk bikin ngebet nyelam cepat-cepat!

Saya lupa komposisinya, tapi dari total 6 kali pertemuan, ada sebagian kelas teori, dan ada kelas praktek, dalam arti nyemplung ke kolam. Bubbles ini memang punya kolam sendiri, tidak luas seperti kolam renang umum, permukaannya hanya sekitar hanya 8 x 8 meter, separuh kolam berkedalaman 2 – 2,5 meteran, dan separuhnya lagi (nah ini dia nih) sampai kedalaman 7 meter (atau 8 meter, lagi-lagi sudah lupa).

Kami sangat menanti-nanti kelas nyemplung dong tentunya. Wetsuit, BCD, weight belt, tabung oksigen, regulator, snorkel mask, fin; semua sudah disediakan untuk kami pinjam oleh Bubbles. Oh ya FYI di bagian depan Bubbles memang juga merupakan toko yang menjual peralatan menyelam, tetapi mereka tidak menyetok barang banyak-banyak. Kalau butuh saran untuk rekomendasi, bisa saja ngobrol dengan para ‘penunggu’ Bubbles ini hehe.

Okay. Berenang saja jarang saya lakukan, apalagi berenang malam-malam. Tapi di diving class ini, yak kita nyemplung dan latihan malam-malam. Gelap sih nggak, kan ada lampu di dalam kolam, tapi suasananya.. yah coba dibayangkan sendiri saja dulu hehe.

Latihannya tentu saja tidak langsung ke kolam yang paling dalam. Kami latihan dulu untuk bernapas dengan regulator di kolam yang lebih dangkal. Misalnya: mask clearing, latihan mengambang dengan posisi badan horisontal, latihan untuk ngambang dengan kepala lebih di bawah dan bisa relatif diam gak naik turun ke mana-mana. Latihan apa lagi ya? Hmm lupa sih, tapi ya banyak. Barulah setelah yang basic kami mulai latihan turun pelan-pelan ke kolam yang paling dalam, dan tetap menjaga tekanan dalam rongga hidung dan telinga. Teknik ini  biasa disebut equalizing, yaitu menyamakan tekanan udara dalam ‘badan’ dengan tekanan air dari luar. Sedikit banyak, kamu harus mau memahami fisika air dan tekanannya dalam mempelajari diving, dan ini termasuk hal yang dijabarkan dalam kelas teori.

Di dalam kolam, setelah equalizing saat turun (patut diingat, turun semakin dalam di air, harus dilakukan dengan bertahap, perlahan-lahan, dan equalizing perlu dilakukan rutin untuk menjaga kondisi badan, terutama telinga dan seputar hidung) kami juga melakukan berbagai manuver seperti mengambang tadi, mask clearing  dengan membiarkan air masuk lalu mengeluarkannya, membuka mask, latihan meraih regulator kalau sampai terlepas, dan banyak lagi. Untuk semua hal ini selalu ada ‘latihan’nya kemudian ada ‘ujian’nya dari instruktur dengan lebih serius. Dari kelas teori juga kami sudah diingatkan selalu soal equalizing yang amat penting, baik waktu naik maupun turun. Lebih mudah dilakukan saat naik sih, karena tekanan air makin berkurang, sedang saat turun, tekanan air semakin bertambah. Tapi baik naik, apalagi turun, harus hati-hati supaya tidak cedera (I hope I’m not overwriting about this warning part).

Anyway, kesemuanya itu dilakukan dengan bertahap sesuai ‘kurikulum’ dan arahan instruktur, dalam kelas-kelas praktek. Ya gak sehari atau satu kelas langsung bisa semua juga lahhh.. hehe. Sebagai sampingan, kami juga dibiarkan “belajar snorkeling” yang memang wajar bisa dilakukan kalau sudah tahu scuba diving, dan diving dengan hanya peralatan snorkeling (dengan menahan napas lalu menyelam seperti berenang biasa, periode di bawah air tergantung kapasitas paru-paru dari masing-masing orang). Memang asik sih kalau bisa melakukan manuver diving saat snorkeling, apalagi pas berhasil “mengibaskan kaki dengan fin” untuk menyelamnya itu.

Di sini cerita saya mulai ada tambahannya.. karena setelah saya buka-buka email lama,  tanggal 20 Mei siang saya mulai konsultasi via chat dengan orang Bubbles.. Sebagian transkripnya di bawah ini ya:

Saya: Mau konsultasi dong. Telinga kananku masih ga enak terus dari semalam. Kuatirnya kena pilek

Bubbles: Rasanya seperti apa ya detailnya?

Saya: Kayak ada udara trapped inside. Kadang bisa dinormalin kalau telinganya ditutup bentar gitu. Ohya, smalam kayaknya rongga sinus aku juga agak sakit. Yang di bawah alis mata deket hidung. Jadi kuatir nih.. Waktu equalizing yang kanan memang nyeri. Jadi gimana sarannya dong?

Bubbles: kemungkinan ya karena flu, minum obat, dan istirahat dulu, hindari minuman /makanan yang bisa menambah parah flunya, seperti minum es/ minuman dingin, kalo bisa ruangannya di set jangan terlalu dingin.

Serem gak sih? Heheu.. ini nih resiko kalau menyelam tapi sedang mengalami flu.. Tapi tanggal 20 malam itu, saya tetap ‘menunaikan’ kelas praktek terakhir.. dan mengalami sedikit nyeri lagi di sekitar alis. Sepertinya hal itu diakibatkan saya agak memaksakan diri untuk equalizing, dan tetap nekad menyelam. “Nanggung tinggal dikit lagi lulus nih,” begitu pikir saya. Untungnya setelah kelas terakhir, masih ada waktu istirahat dua tiga hari sebelum berlanjut ke… our first dive trip ke Pulau Sepa!

Oh ya, intermezzo sebentar, harga scuba diving course yang saya bayar, sudah termasuk harga weekend trip ini lho: akomodasi, transportasi, makan. Yang tidak termasuk hanya sewa alat-alat selam, yang kami sewa dari Bubbles dengan harga bersahabat. Jadi sebenarnya memang paket diving course kami, very friendly sih (tapi tetap relatif ya sesuai kapasitas kantong masing-masing hehe).

Kami berangkat ke Sepa di hari Sabtu pagi dari Marina Ancol, Pier 19. Waktu perjalanan kurang lebih sekitar 1 jam 40 menit. Jadwal diving kami sudah diatur yaitu dua kali di hari Sabtu dengan jeda makan siang, dan dua kali di hari Minggu sebelum makan siang, karena jadwal kapal untuk kembali ke Jakarta adalah jam 2 siang. Karena trip ini juga sekalian ujian kami, kami tetap harus membawa manual book dan tabel menyelam kami, selain tentunya perlengkapan menginap standar lainnya.

My Dive Group, taken at Marina Ancol, I think :)
My Dive Group, taken at Marina Ancol before we departed to Sepa Island, I think :)
Speedboat yang membawa kami ke Pulau Sepa
Speedboat yang membawa kami ke Pulau Sepa

Intermezzo sedikit lagi, untuk setiap diving beruntun, memang perlu diatur dengan jeda waktu yang cukup, karena ini berhubungan dengan kadar oksigen dalam badan (kalau gak salah ingat). Jadi ada hitungannya sendiri berupa tabel supaya tahu recommended schedule gitu. Jadwal diving lebih krusial lagi kalau kamu mau naik pesawat setelah diving, karena tekanan udara di pesawat kan beda lagi tuh. Untuk lebih mendalaminya, coba belajar diving sekalian hehe..

Seperti apa diving dan ujiannya? Awalnya kami menyelam di sekitar dermaga pulau Sepa saja. Ada sesi di mana kami harus bisa berlutut di dasar berpasir di kedalaman kurang lebih 8 sampai 10 meter, lalu kami diuji satu-satu skill-nya. Skill yang diuji ya seperti yang sudah kami pelajari: mask clearing, lepas regulator lalu meraihnya lagi.. dan lain-lain (mulai lupa). Nih ada sebagian foto dokumentasinya, thanks to teman-teman diving yang membawa kamera underwater hehe.

During the test at Sepa Island's pier, picture from Daniel Carnadie's collection
During the test at Sepa Island’s pier, picture from Daniel Carnadie’s collection

Oh ya, dalam scuba diving ada istilah dive-buddy, yang basically memang berarti ‘teman diving’ tapi kalau dalam prakteknya, dive-buddy kamu itu adalah partner untuk saling ‘menjaga diri’ mulai dari sebelum nyebur, buat ngecek peralatan sebelum turun (ada step-stepnya lho) dan di dalam air tentunya. Prinsipnya, di dalam air, dive-buddy harus selalu dalam jarak pandang kamu, harus saling mengawasi kalau ada apa-apa. Kenapa? Karena di dalam air, unpredicted things can happen, seperti arus air tiba-tiba kencang di bawah, ada yang kram lah, atau oksigen bocor lah.. dll. Dengan persiapan yang baik, tentunya resiko ini bisa dicegah atau dikurangi efeknya. Harus siap dan cek-cek sebelum turun lah pokoknya. Dan karena ajaran ini juga, diving itu not recommended untuk dilakukan sendirian. Harusnya minimal berdua lah.

Kembali ke diving trip dan ujiannya, setelah basic skills sudah diuji, barulah kami dibawa jalan-jalan (ya berenang-renang sih) melihat terumbu karang di sekitaran sana. Ternyata yah… habitat bawah laut itu sungguh AWESOME! Misterius, dan mempesona, seolah melihat koleksi tanaman dari dunia yang berbeda (memang beda lah ya, ini laut, biasa kita lihat yang ada di darat saja). Kami sempat juga menjumpai satu dua ekor penyu yang lagi berenang-renang (oh we’re lucky!) dan berbagai ikan yang cantik-cantik seperti Clown Fish yang suka kita sebut Nemo itu, dan lain-lainnya. Bisa lupa waktu deh kalau di bawah sana, dan memang yang memakai jam ke dalam air itu gak semuanya juga, jadi cuek dengan waktu deh hehe. Yang jelas kami harus selalu memantau kapasitas oksigen di dalam tangki masing-masing, dan tahu kedalaman kami.

Angelyn and me, picture from Aditya's collection
Angelyn and me, picture from Aditya’s collection

Kalau gak salah, sempat juga ketika sedang berenang-renang itu saya tiba-tiba ‘ngeh’ kalau sisi yang berlawanan dengan si terumbu karang itu.. laut yang gelaaap banget, yang artinya sangat dalam, dasarnya tak kelihatan. Kalau gak siap hati ya, bisa tiba-tiba nervous tuh dan panikan. Dan panik itu, musuh utama banget dari diving. Sewaktu diving kan kami harus mengatur napas dengan baik, dengan bernapas lewat mulut dan menggunakan regulator. Kalau panik, bisa buyar tuh pengaturan napas. So? Don’t panic!  Harus bisa mengontrol diri dan hati, saat menyelam. Memang somehow, mendengar napas sendiri dan mendengar ‘suasana’ bawah air itu, bisa diibaratkan meditasi lho. Ibaratnya seperti berdamai dengan diri sendiri , dan dengan suasana dalam air dan habitat laut juga.

Sesekali kami berpapasan dengan kawanan ubur-ubur, yang bening-bening dan kecil-kecil. Eh ubur-ubur ini kalau kena badan, sakit seperti disengat! Widih lumayan tuh rasanya, karena kami kan cuma pakai wetsuit yang separuh lengan saja, tidak menutupi sebagian lengan. Jadi pengalaman diving kami juga sambil pengalaman disengat ubur-ubur, dan alhasil kami jadi mengerti manfaatnya wetsuit yang full length. Kalau tertutup full length wetsuit, barulah lebih aman kulit para diver dari ubur-ubur.

Hari pertama dari trip kami, usailah kami melakukan dua kali diving. Dan malam itu, selain makan malam, menu kami ada tambahannya dong: ujian teori! Haha.. iya, namanya juga dive trip sekalian ujian, jadilah kami harus menyelesaikan soal-soal dengan manual, ditulis di kertas. Ada ambang bawah nilai kelulusan tes, yang lumayan membebani pikiran. Kalau gak lulus, rugi dong bayar mahal-mahal untuk diving course? Memang masih boleh ikut diving di hari Minggu sih, tapi license-nya gak dapat.. sayang banget kan..

Suasana waktu mengerjakan ujian teori, picture from Irma's album
Suasana waktu mengerjakan ujian teori, picture from Irma’s album

Saya yang maunya cepat selesai (grasa-grusu gitu lah) menyerahkan jawaban saya nomer dua, dari 9 orang yang diuji (ada peserta trip tambahan dari kelas lain). Syukurlah saya lulus, meski nilainya gak sempurna (ambisius, tadinya berharap nilai sempurna haha). Dan semua orang dalam grup saya lulus dong. Malam itu kami tidur nyenyak deh karena sudah yakin lulus, dan divingdiving keesokan hari bisa dilakukan dengan pikiran lebih enteng.

Jadi kalau dilihat-lihat di log saya, dalam dive pertama itu kami melakukan beberapa skill yaitu: snokel breathing and clearing, snorkel/regulator exchange, tide diver tow dan cramp removal. Dalam dive kedua tidak ada note extra, dive ketiga meliputi materi: Control Emergency Swimming Ascend (sering disingkat menjadi CESA) dan surface & under water swim with compass. Dive keempat dan terakhir pun masih ada materi yang kami lakukan: remove and replace scuba & weight system at the surface. Semua catatan dive kami taruh dalam personal log book kami masing-masing, menjadi seperti rekaman ‘jam terbang’ diving kami masing-masing.

Okay, usai dari dive trip kami pun kembali ke Jakarta, kembali ke keseharian kami, sambil menunggu kabar kapan kartu diving license kami jadi dan dapat diambil di Bubbles.

Nah kini cerita saya berlanjut ke… kunjungan ke dokter THT.

Singkatnya saja, saya tak ingat persisnya pada dive ke-berapa di pulau Sepa, saya memang mengalami lagi sakit nyeri pada rongga kepala sekitar hidung, persisnya di bawah alis. Nyeri ini seperti ditusuk ‘tekanan’ entah dari mana. Sepertinya memang berhubungan dengan kondisi saya yang tidak begitu fit (tanggal 20 itu sudah merasa agak flu), dan cara saya equalizing yang sepertinya overdone. I blew my nose too much. Alhasil sekembalinya dari dive trip, keesokan harinya kali ya, saya merasa bagian dalam telinga juga ikut nyeri, dan saya segera ke Rumah Sakit untuk meminta pendapat dokter. Kalau tidak salah sih malam hari Senin itu juga.

Hasil pemeriksaan dokter dengan kamera menunjukkan, semua bagian dalam hidung dan telinga saya, kanan maupun kiri, meradang. Hiks! Ada fotonya juga, dibuat kamera khusus itu (yang seperti dipasang di selang amat kecil dan dimasukkan ke hidung/telinga) oleh pak dokter, tapi saya gak tega memajangnya di sini. Resep dari dokter yang diberikan adalah obat minum antibiotik, dan saya tidak ingat apa lagi. Kalau tidak salah saya juga jadi tahu kalau memang tulang rawan hidung saya agak bengkok (kasus ini disebut deviated septum atau septum deviasi) yang sedikit menjelaskan kenapa saya sering merasa kesulitan untuk melakukan equalizing. Saran dokter pada waktu itu, sebaiknya saya tidak menyelam lagi (dulu), dan jika ingin menyelam lagi, lebih baik septum deviasi pada hidung saya dibetulkan, dalam arti operasi minor untuk memotong tulang rawan yang bengkok di dalam hidung saya.

Waahh.. akibat dari pertemuan dengan dokter THT itulah, sampai hari ini saya belum pernah menyelam lagi. Open Water Diving License yang sudah di tangan saya sejak Juli 2009 (dikirim dari PADI langsung ke Bubbles) belum digunakan lagi sama sekali. Sedih sih. Tapi mungkin ceritanya bakal lebih menyedihkan lagi kalau saya memaksakan diri untuk menyelam, ya gak sih? Bagaimanapun kesehatan adalah aset yang perlu kita jaga..

Weekend kemarin, 14-15 September 2013, kebetulan saya dan grup di kantor pergi outing ke Pulau Tidung, dan kami sempat melakukan snorkeling. Wahh.. sudah beberapa tahun saya gak berenang di laut, ternyata saya kangen! Dan ternyata saya juga sudah kehilangan memori terhadap skill dan teori yang pernah saya pelajari. Bahkan untuk menyelam  dengan menggunakan snorkel, saya gak berani coba. Boro-boro mencoba, mask kemasukan air sedikit saja saya sudah semacam panikan dan rajin banget berusaha membuang air itu ke luar mask. Setelah spot snorkeling kedua, saya kemudian jadi menyadari, belum apa-apa hidung saya sudah mau mampet lagi. Yah.. kondisi seperti begini sepertinya menjadi another challenge untuk mencoba diving lagi.

On the way to snorkeling from Tidung Island, picture from Arief's album
On the way to snorkeling from Tidung Island, picture from Arief’s album

Setelah memiliki Open Water Diving License, yang berlaku seumur hidup, teorinya adalah cukup satu kali kelas praktek menyelam, untuk mengingatkan badan, supaya saya boleh diving lagi. Tapi saya ragu, saya akan melakukannya dalam waktu dekat.

In conclusion, cerita saya ini bukan mau menakut-nakuti kalian yang berminat untuk belajar menyelam. Malah saya sih merekomendasikan banget untuk yang mau mencoba, bahkan mengambil kelas dan diving license, biar afdol! Tapi yang paling penting, sadarlah dengan kondisi kesehatan masing-masing, dan kesiapan diri masing-masing secara mental. Diving itu bukan persaingan kok, gak ada juga namanya lomba diving kan hehe.. Hanya saja kalau memang mampu, berminat dan niat, go for it! It really is a beautiful world down under – buat yang bisa mengapresiasinya. Dan jangan lupa, Indonesia kan banyak sekali memiliki pantai, dan habitat laut yang indah banget!

Sekarang saja saya kangen snorkeling lagi huhu..

Semoga sharing ini ada gunanya buat kalian yang sudah membacanya, dan terima kasih sudah mau membaca sampai beres. Kalau ada informasi yang perlu dikoreksi, mohon masukannya. :)

Jadi, adakah yang berminat mencoba diving? :)

Updated 25 Sep 2013: 
Ini ada cerita (pendek kok) dari teman yang belajar diving juga, di Bali! : Open Water Diver
Dan serunya dia buat video dari trip belajar diving juga, di sini: Video: Diving at Tulamben
Silakan dibaca dan ditonton :)

More information:

Pengeluaran saya untuk diving course di tahun 2009 sekitar Rp3.000.000,-
Sewa alat untuk trip tahun 2009: Snorkeling set Rp50ribu per hari, Wetsuit Rp35ribu per hari, total Rp170ribu untuk 1x trip.

This is where I went, and I recommend it:

Bubbles Dive Center
Jl. Guru Mughni No. 18 Jakarta, Indonesia
Tel +62 21 529-22233 Fax +62 21 529-22233

Further reading:

An article about my diving instructor, Yeyen Taryono (written in 2009) published in Jakarta Globe.

Website PADI: http://www.padi.com/scuba/

Website Bubbles Dive Center: http://www.bubblesdivecenter.com/
Sebenarnya Bubbles ini cukup sering membuat dive trip, tapi informasinya tersebar di kalangan sendiri. Siapa tahu ada yang berminat. :)

Kalau mau tahu range peralatan menyelam, coba ke www.alatselam.com
Disclaimer: Saya sendiri belum pernah berbelanja ke sini ya.

Thank you for the pictures Aditya, Daniel, Irma, Arief.
Let me know if you’d prefer to take them down >.<

Advertisements

50 thoughts on “Scuba Diving and Me

  1. Aku sedih mbayangin kamu kehilangan kesempatan untuk nyelem lagi (kecuali kamu mau dioperasi). Mudah2an kpn2 kamu bisa dive lagi ya nat. Aku jg ga tau ini. Mudah2an sih ujian hari ini lancar, hehehe. Siap2 ke marina ancol bntr lagi. Wish me luck! :)

    1. Iya sih aku sedih juga, tapi ya mungkin harus menata prioritas (kesehatan, mungkin nabung lah buat operasi minor itu). Amin semoga kapan-kapan bisa kembali menyelam. Si Mbok sukses yaaa dive tripnya!! Always keep calm ya mbok, aku doakan dari sini :)

  2. Huwaaaa… Beberapa bulan belakangan ini kenapa kena diceritain pengalaman diving mulu dari mana-mana.. Temen-temen gue juga udah pada mulai ambil sertifikasi diving, dan bikin iri waktu jalan-jalan ke wakatobi, sementara waktu itu gue ga bisa ikut karena mempersiapkan mental dan materi buat ke Swedia ini.. trus sekarang nyesel dong, bertahun2 hidup di Indonesia, ga berani nyoba diving sama sekali.. :cry: Di sini sih ada ya buat kursus diving, tapi harganya minta ampun. Lagian kalo pun duitnya ada, emoh ah diving di air es.. :lol:

    Sayang banget Nat, ga dipake license divingnya.. Coba nyoba konsultasi ke dokter lain, atau tanya-tanya diver lain yang lebih pengalaman, mungkin ;-)

    1. Diving di air es itu sertifikasi khusus lagi lho setahuku.. Hehehe.. Iya sih dulu kayaknya kita less exposed dengan cerita diving, sekarang ini mungkin memang makin “ramai” dan “ngetrend” untuk diving, salah satu penyebabnya menurutku mungkin makin terbukanya berbagai jalur komunikasi. Entah pastinya, tapi memang jadi marak. Efeknya pasti ada plus minus, plusnya seperti wisata bahari dan kelautan makin ramai, tapi kuatir efek negatifnya semisal banyak turis menyelam yang sembrono dan malah secara tak sengaja merusak kawasan diving. Anyhow.. Semoga saja aku bisa diving lagi kapan-kapan, dan semoga kamu juga bisa mencobanya yahh :)

    2. Oh iya nambahin, memang harusnya aku (atau kita) banyak bertanya, membuka diri siapa tahu ada solusinya ya. I think this blog post is a small step where I can begin something.. Mohon doanya yah :)

  3. Share pengalaman yg sangat sangat bikin gw mesti sedikit ati2. Perna beberapa kali fun diving pake buddy, tp setelah nya selalu hidung mampet + telinga sakit.

    Kayak nya perlu cek kedokter nich kalo gw serius mau ambil lisence nya, dr pada nanti sia2 bayar mahal tp ngak kepake.

    Thanks sharing nya, seriusan penting banget nich ;-)

    1. Hai Cumi, thank you sudah memberi komentar :) Iya diving erat banget hubungannya dengan telinga hidung, jadi baiknya memang dicek lebih mendalam ya kalau pernah sakit gitu. Semoga gapapa dan tetap bisa diving, siapa tahu makin serius malah :) cheers!

  4. Tapi senang kan, Nath. Udah pernah nyoba dan punya license-nya.
    Masalah kapan diving berikutnya kan bisa nunggu aja, nunggu siap, nunggu operasi, nunggu mau.

    Kamu hebat euy, belajar tahun 2009, nulisnya 2013 tapi masih inget banyak teori gitu. Menurut aku sih itu banyak. :))

    1. Aw Rere, iya senang banget sihh, ini adalah contoh “pengalaman yang bikin belajar, terus sangat dikenang”.. Dan lebih senang lagi sekarang, akhirnya bisa dishare dan semoga bisa berguna hehe.. Ini mengingatnya sambil mengorek-ngorek email lama sih :D dan sebagai catatan, banyaak hal teori lainnya yang belum ter-cover di sini lho ya.

      Amiiin semoga suatu waktu bisa diving lagih :)

  5. SIM open waterku nganggur sejak 1999. Meski udah ikut course dan dapet license open water diver (PADI) tapi masih belum pengin mengulangi diving lagi. Ternyata aku merasa sangat tidak nyaman di bawah laut, kayak tertutup, sesak, betapapun indahnya under water Gili Trawangan ketika itu.

    1. Mbak Tika, soal kenyamanan dan apresiasi bawah laut akhirnya menurutku sangat subjektif, istilahnya kayak soal selera makanan lah yang pasti beda-beda :) Moga-moga saja sekarang-sekarang ini orang gak diving karena “peer pressure” hehe, lalu jadi ‘suka’ tapi semu. Awalnya tapi emang harus coba dulu untuk tahu seperti apa rasanya. Ya gak sih? Ini menurutku aja..

      Jadi penasaran sama Gili nih, aku ke sananya aja belum pernah, boro-boro diving :D

  6. Cepat pulih Nat Nat, semoga bisa diving lagi ASAP.
    Dari dulu pengen ambil SIM open water tapi entahlah kenapa ketunda terus. :(
    Semoga setelah baca dan menyerap kisah ini, tekadnya makin bulat. :)

    1. Hahaha Om Pandu masih sering nyelam ya? Duh nulis blog ini bikin nostalgia Sepa, kangen nyebur lagi haha.. Moga-moga ada rejeki deh bisa segera diving kembali, and blow the bubbles again *sendu* :D

  7. apa kabarnya diriku yang belom bisa renang kalo mau diving ya? mungkin baru bentar aja udah panik..

    tapi, dulu pas lagi tes HUET (helicopter underwater escape training/test) waktu masih kerja di ladang minyak, justru tenang & LULUS! padahal ga pake alat bantu apa-apa.. :lol:

    1. Bill, sebenarnya untuk diving gak harus “jago berenang” sih, toh kan nanti harus ‘nyemplung’ ke dalam air.. Tapiii.. ya harus agak bisa sih. Soalnya kalau PADI license ada 2 test penting: harus bisa bolak balik kolam 8x (renang juga kan sih, tapi gayanya bebas kok) dan ngambang selama 10 menit. Ada yang ngambang a la watertrappen *apa lah itu yang teknik injak-injak air biar gak tenggelam* ada juga yang renang ke sana kemari atau ya ngapung sambil baring aja *itu yang aku lakukan*
      Kalau license lain aku gak tahu apakah seketat PADI gak.. hehe. Ayo kalau gitu latihan berenang Bill :D

    1. Haha iya ngeblog kan enaknya kalau ramai-ramai ada kunjungan balik dan saling berbagi hehe..

      Kalian dapat PADI License juga ya? Kayaknya sih di Jakarta sama di Bali harganya beda, tapi aku gak tahu juga haha..

      1. SSI / PADI ? cuman masalah “pride” aja, ga ada yang sulit selama mau belajar. Kenapa saya bilang sama aja kedua agency tersebut? karena SSI adalah pecahan dari PADI, dan mereka sama-sama untuk recreational diving.

        Yang sulit ketika kamu ingin menjadi seorang technical diver (bukan commersial diver loh ya).

        Masalah harga license, juga relatif. Ada yang murah (jangan murahan) ada yang mahal (fasilitas membedakan).

        Kalau mau license ya intinya jangan mentang-mentang murah langsung jossss, tanya-tanya dulu ama temen-temen diver, baca forum diver dulu. Kualifikasi untuk menjadi diver openwater itu apa, ada beberapa instructor yang shortcut (karna harganya murah).

        sumber: pengalaman pribadi

  8. Seru sekali ya Nath, btw kl diving itu harus bisa berenang yah? soalnya nih pernah dgr2 kl mw diving gak perlu harus bisa berenang, lah kan jd bingung …
    Aku belom bisa loh ngatur nafas kaya’ yg kamu tulis itu, panik akut deh :(

    1. Hai Fascha, ketentuan ‘bisa berenang’ buat diving sih ada, tapi gak perlu jago-jago banget yang bisa renang dan melintasi selat gitu kok :D. Ada ujiannya, harus bisa renang bolak balik kolam sampai 8-10 kali, tapi gak ada ketentuan harus cepat-cepat (kalau gak salah), dan harus bisa ngambang sekian menit (kalau PADI, ditest juga). Jadi bisa renang dikit-dikit lah, bukan super jago gitu..

      Ah kalau soal ngatur nafas, justru itu yang dipelajari kalau kamu ambil sekolah/kursus nyelam. Sebenarnya ini pembiasaan diri sih, dengan jadi ‘terbiasa’ jadi gak panikan.. Gitu menurutku.. Kamu minat diving juga? ;)

        1. hihihi, iya nih, kaya’nya mw belajar renang dl, begitu bisa mw langsung belajar diving… pengen bangeet! apalagi pas kk nunjukkin dia diving di raja ampat :( bikin ngileeeer

        2. Huaa… aku ke Bali aja belum, apalagi Raja Ampat.. Kakakmu beruntung sekali ituu.. semoga kamu juga bisa ya ngikut diving sampai ke Raja Ampat dan tempat-tempat lainnya ;)

        3. Enak dong tinggal di sana, bisa sampai bosen kali ya? Haha.. Pulau Tidungnya not bad sih, jembatannya (yang “Jembatan Cinta” itu) sudah diperbagus, waktu aku datang masih ada cat-cat yang baru banget hehe.. Tapi buat snorkeling, sekitar Pulau Tidung gak keren-keren amat, harus lebih jauh lagi dari Jakarta sih kata temenku…

  9. Hai Nat,

    Lagi surfing di gugel eh ketemu tulisan kamu tentang diving, jadi sekalian baca (ada beberapa di skip sih hehe).

    Saya Padi Diver, dan ingin mencoba share pengalaman dengan kamu. Tahun 2013 adalah tahun dimana banyak pembelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan, salah satunya “deviated septum” yang menjadi kasus pada buddy saya.

    Buddy saya persis sama mengalami yang dialami oleh kamu, disuruh operasi, dibilang ini itu, bla bla bla…. Tapi kgk dilakuin ama doi kok. Doi sempat vakum juga diving beberapa bulan, sampai akhirnya dia coba diving lagi dan thx God no prob sampe skrg (Last Depth 37,4m).

    Nah, ada beberapa cara dalam mengatasinya, serta ada beberapa penyebab terjadinya sakit disekitar saluran udara, kalau saya jelaskan disini satu-satu bisa panjang (haha).

    ” Trauma ” yang dialami pada rongga telinga biasa disebabkan:
    – kamu turun terlalu cepat
    – terlambatnya equalisasi
    – MEMAKSA untuk equalisasi pada kedalaman tertentu
    – “Yoyo Movement” ketika diving
    – dan beberapa faktor lainnya

    Cara ngatasi yang paling gampang ketika kamu ga bisa equalisasi ya abort dive (hihi), eitss itu cara paling gampang dan paling ga enak… Ada cara yang cukup gampang dan enak kok (haha), ketika kamu sulit untuk equalisasi kamu naik 1-1,5m dan stay disana sampai bisa equalisasi (no yoyo movement), hovering dibutuhkan untuk ini.

    Kalau kamu kangen diving, kamu bisa memulainya dengan latihan lagi di kolam (senayan/ lainnya) sebelum kamu ke perairan terbuka.

    Saya bukan instructor, saya bukan penulis, saya hanya diver yang senang berbagi dengan diver lainnya, mohon maaf bila ada kesalahan dalam menjelaskan.

    Have a nice dive
    Plan your dive, dive your plan
    FS

    1. Hai Fredrikus, terima kasih ya sudah datang membaca blog saya dan mengomentari tulisan ini :)

      Sebenarnya waktu saya mengambil kursus diving dulu, ada juga teman diver yang bilang, gapapa kok tetap nyelam walau ada deviated septum. Soalnya menurut pengalaman teman saya itu, dia ada deviated septum juga, tapi tetap cuek dibawa nyelam, dan ya akhirnya terbiasa/membiasakan diri sehingga gak ada masalah lagi.

      Jadi iya, bisa aja ada kasus deviated septum yang tanpa tindakan/perawatan khusus, bisa membiasakan diri sendiri sehingga bisa menyelam lagi. Saya hanya orang awam ya, jadi menurut saya, siapa tahu hal itu bisa terjadi karena tingkat ‘keparahan’ deviated septumnya berbeda dengan saya. Ini hanya opini pribadi, dan gak dicek juga kebenarannya.

      Iya kadang kangen diving tapi sepertinya belum sampai terpikir berlatih diving lagi (karena prioritas aktivitas dan lain-lain hehe). Terima kasih ya buat ajakan kamu, dan iya pasti saya butuh latihan dari nol lagi nih.

      Kalau memang sudah jadi diver, pasti memang ada rasa ingin sharing tentang indahnya dunia bawah laut, dan itu memang perlu sih diketahui orang banyak, supaya makin banyak yang cinta laut.

      Terakhir, saya suka quote kamu ^^
      Plan you dive, dive your plan.

      Semoga kamu juga tetap diving dan bisa berbagi tentang pengalaman kamu ya! *tulis blog nya dong hehe*

      Cheers,
      Natalia

      1. Hi Nat,

        Huff barung pulang lembur, buka laptop butut kesayangan, cek mail, iseng mampir lagi, eh uda ada balasan. Fast response :)

        Saya ga ada blog, dan saya cukup gaptek dalam membuat blog. Tapi coba saya berbagi dengan “menumpang” pada blog kamu. Jumat nanti saya dan buddy akan take off ke “Hidden paradise”.. Yap,itu istilah dari Gorontalo. Bila berkenan nanti akan saya share pic dan informasi penting lainnya. Mudah-mudahan dapat menjadi tulisan yang menarik untuk kamu. Boleh tau email kamu apa? sehingga dapat saya share pic’nya nanti (numpang eksis) haha…

        Mengenai latihan, gak usah terpikir. Coba saja main ke senayan untuk refresh dan main di kedalaman 5m, saya punya buddy (yang lain) wanita juga kok, dia sudah punya skill untuk menjadi divemaster (license belom master), kamu bisa di bantu oleh dia.
        Biaya hanya meliputi kolam renang serta tabung oksigen (kalau kamu blm pnya gear, maka harus sewa lagi dengan DC disana, tapi bisa saya pinjamkan kalau muat dengan gear saya).

        Diving adalah passion seseorang untuk melihat dan mengetahui marine life, trust me suatu saat kamu akan mau diving lagi. Jadi ga ada salahnya kamu refresh lagi.

        FS

        1. Hai lagi Fredrikus :)

          Saya harus bilang, kata-kata penutup kamu very encouraging, dan iya, saya percaya kebenaran kata-kata kamu, tinggal masalah ‘kapan’nya saya gak tahu haha..

          Waahhh ke Gorontalo! Saya yang baca aja excited sendiri lho bacanya. Boleh banget kamu share, bisa via email ke natalixia at gmail dot com :D.

          Ada teman saya juga yang belajar diving di Senayan lho, coba kamu bisa baca-baca di http://venus-to-mars.com/tag/diving/ – jangan-jangan ada teman kalian yang saling kenal hehe..

          Feel free to mail me then. Cheers!

  10. Salam mba,

    Saya senang sekali baca artikel ini karna kebetulan saya terbesit untuk mengambil diving license, artikelnya lengkap dan detail juga objektif. Tapi saya jg turut prihatin atas kesehatan mba. Semoga sll dalam perlindungan-Nya ya mba.
    Yang ingin saya tanyakan, bedanya lembaga PADI dan Bubbles itu apa ya mba? saya sudah searching2 tp beda2 semua artikelnya. Siapa tau mba bisa membantu saya untuk lbh memahami hal ini :)
    Dan yang kedua, pada saat mba ambil license apakah instrukturnya lokal atau foreigner ya?

    Trims mba sebelumnya.

    1. Halo Nita, gambarannya gini: kalau PADI itu organisasi diving internasional, sedang Bubbles itu sekolah diving lokal di Jakarta, nah Bubbles memberikan ijasah (dan kursus) mengikuti standar PADI. Instrukturnya lokal, tapi mereka punha sertifikasi dari PADI. Istilah lainnya, PADI itu kurikulumnya gitu mbak :) Kalau di Senayan, Jakarta ada juga yg ngajar menyelam dan sertifikasi lokal sih kayaknya.

      Semoga membantu yah :)

  11. Kak, aku berniat buat ngambil sertifikat diving nih tahun depan, tapi masih bingung mau ngambil SSI atau PADI? sebenernya beda SSI atau PADI itu apa ya kak?

    Terus aku sudah sempet searching2 sih tempat2 buat ambil sertifikat di daerah Jakarta ada beberapa yg aku liat, kayak flyfishing sama seapearl, terus saya baru tau lagi ada bubbles. Alasan kakak milih bubbles kalo boleh tau apa ya kak? soalnya aku juga msh bingung nih mau ngambil sertifikat dimana.

  12. hai, saya punya kondisi sama seperti diatas, mungkin benar untuk mengetahui kondisi tubuh tapi coba sesekali untuk diving dan istirahat cukup, saya setelah latihan freedive langsung sakit kepala dan daerah hidung sakit bukan main minum antibiotik dan istirahat cukup besoknya kembali semula.. akhirnya pertanyaan terjawab kenapa setelah renang selalu sakit kepala.. tks ceritanya

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s