Sentilan Kehidupan

Kapanpun dimanapun, namanya sentilan kehidupan bisa terjadi pada kita ya.

Tersebutlah suatu pagi hari, ketika saya dengan malasnya randomnya memutuskan untuk menggunakan taxi dalam rangka berangkat ke tempat kerja. Bapak supir taxinya cukup ramah, dan ngobrol-ngobrol sok tahu santai tentang Jakarta sekarang-sekarang ini. Saya sudah sempat mengarahkan pilihan rute saya ke kantor, lewat jalan Sinabung, dan si bapak ini menyahut “Oh itu sih dekat rumah saya mbak, di Martimbang. Dulu masih sepi, belum ada arteri Pondok Indah, sekarang ya sudah makin ramai.” Bapak entah siapa namanya ini ternyata memang sudah puluhan tahun bermukim di Jakarta.

Celotehan si bapak bermacam-macam topiknya mulai dari bangunan yang makin padat di mana-mana (di Jakarta), makin banyak gedung tinggi, dan tentu saja, tentang jumlah kendaraan yang makin banyak saja di Jakarta. Mengemudi mobil tak lagi menyenangkan, bikin stress karena macet di mana-mana. Out of the blue, dia berkata gini, “Kalau orang kaya sih enak ya mbak, tinggal nelpon, disupirin deh ke tujuannya.”Antara mikir dan gak niat mikir, saya cuma merespon “Hehe iya pak, kalau memang supirnya banyak emang enak tinggal minta diantar pak.” Tapi saya terus terdiam. Jangan-jangan dia bermaksud ngomongin orang-orang yang mampu menelpon taxi dan lalu diantar taxi ke mana pun dia suka? Err…  *awkward moment*

Pikiran saya masih berbuntut nih, soalnya pas banget sebenarnya saya baru iseng dihasut liburan akhir pekan ke Singapura, demi melihat Harry Potter Exhibition (hm, ini bahan blog post nih, kok lupa ya).. Aniway, liburan kemarin belum lunas sih, masih ada utangan di kartu kredit, tapi kenyataan ini membuatku berpikir.. saya ini mungkin sungguh salah satu contoh kaum #KelasMenengahNgehe ya. Dibilang kaya, ngga juga, masih ngutang, masih ingin lebih kaya, dan masih suka harus ngirit setelah gaji dipakai foya-foya di tanggal muda, tapi kok mainannya iPhone (untung cicilannya sudah lunas) dan iPad (masih nyicil), punya laptop (nyicil juga bro), dan bisa liburan ke Singapura (modal kartu kredit)..

Jadi, moral of the story, kalau memang merasa gak pas disebut kaya, sepertinya saya harus bisa lebih niat ngirit dan melunasi cicilan segera, biar beban moril berkurang, dan bisa nabung dan jalan-jalan tanpa hutang, biar berasa kaya beneran.

Tapi daripada kaya, lebih penting kan sebenarnya, are you happy?
*jreng… to be continued kita bahas di posting lainnya yaa

Gambar dicomot dari sini  

Advertisements

25 thoughts on “Sentilan Kehidupan

  1. kalau dapat supir taksi yang enak, banyak ngasih “tamparan”, ya? :lol:
    sebenarnya mereka ga niat ngomong seperti itu. tapi, melihat jalanan yang ga oke lagi, daripada dia bete, mending dia nyari kesibukan dengan mengajak kita ngobrol

    1. Hahaha, ndak tahu tuh kenapa, bisa dapet yang jleb banget :D
      Iya mungkin dia gak niat, lebih ke itikad baik buat ada obrolan, tapi ya itulah, kejutan hidup datangnya bisa dari mana saja dan siapa saja :)

    1. Kalau gak salah ada Chinese Wisdom yang bilang, kalau ada orang nanya2, jawaban paling baiknya tuh adalah tersenyum dan balas nanya “Why do you want to know?” :mrgreen:
      Jadi bebas aja sih ;)

  2. “are you happy?”
    “enggak….”
    emang mending happy sih daripada kaya… secara orang2 miskin yg dijalanan so far mereka hidup bahagia dgn keluarganya meski mereka kadang mengeluh dan selalu ingin kaya. \

    *omong2 soal taksi jadi inget slalu dikerjain tukang taksi selama di Indo kemaren ~.~

    1. Aku kalau ngasih ucapan selamat sekarang sebisa mungkin urutannya: Semoga sehat selalu, bahagia, dan sukses. Sebenarnya urutan tersebut mencerminkan prioritas yang ‘bener’ gitu lho. *ya gak sih?*

      1. hmmm so far I agree dgn urutannya… sehat yg utama diikuti bahagia dan sukses….
        aku kalo ngucapin ga mikirin begituan xD kakak ini detail banget sampe ngucapin aja merhatiin hal seperti itu

        1. Ini karena pengalaman orang tua dan kakek nenek sendiri.. Sebenarnya “panjang umur” itu gak menyenangkan kalau gak sehat.. Dan kadang ga perlu kalau terlalu banyak duka juga.. Itu imho banget lho ya :)

        2. ya iyalah mending mati muda langsung matek daripada panjang umur sampe tua tapi sakit2an.
          so far aku salut dgn orang2 tua di jepang yg mereka udah tua tapi msh bisa naek gunung ~.~ aku yg masih muda malah kalah… But aku emang trauma dan ga suka sih naik gunung jadi wajar kalo kepayahan pas naek gunung *pembelaan diri

        3. Mungkin mereka bisa (masih naik gunung) karena biasa sih Van, gak usah memaksakan standard orang lain ke diri kita, tapi boleh buat motivasi lah #ambigu #nathwisdom :P :D Kalau memang gak suka naik gunung, mungkin passion kamu memang di aktivitas lain *aduh kok gue kayak motivator banget ya jadinya :D

        4. huahaha baca ending commentnya *sodorin gelar motivator no 1 kojak huahaha…
          iya kakak… karena pernah trauma hampir jadi orang ilang di gunung waktu SMP kelas 1. Jadi kapok banget nget nget….

  3. Haha aku dulu juga ngutang-ngutang demi gaya hidup. Skr Puji Tuhan udah enggak. Kalo gak mampu cash ya gak beli (kecuali barang2 dgn nilai investasi tinggi macam rumah dan tanah).
    Pertanyaan itu benar, yang penting happy tapi buat apa kebahagiaan semu? Seneng beli tapi terus uring2an karena harus ngirit2 atau kecekek cicilan. Lha tapi kalau tetep keukeh pengen Happy pdhl duit belum cukup buat happy2? Waktunya kembali ke esensi hidup sih, merenungi arti kebahagiaan itu sendiri. Trust Me, Nath. Been there, done that. Dan cara aku melepaskan diri dari senang-senang dengan cara berutang waktu itu adl dgn cara retreat (menarik diri dr kehidupan hura2, bukan retreat gereja) dan aku ajak diriku sendiri berdialog, aku ajak diriku sendiri hidup sesuai dgn kemampuan. Ternyata bisa. Sampe skr terbiasa begitu. Balik soal kebiasaan sih.

    1. Makasih commentnya Eka *menjura* Kok kayaknya comment kamu dari dulu ngena mulu (yg soal SakingMandirinya itu juga lho, di Twitter dan di Blog ^^) Ini aku habis hure-hure mulai merasa harus kembali ke fitrah *eh atau apa lah* disiplin mengatur dan menjalani perencanaan yang selama ini udah ada di kepala; perlu dituangkan tertulis dulu sekalian kali ya :). Commentnya bikin lebih bersemangat gak mau kalah nih hehe, makasiiii ^^

  4. am i happy? i’ll answer it outloud “I DO HAPPY!”

    mungkin kondisi riil kurang meyakinkan, tapi setidaknya dengan sebuah teriakan itulah kelak bisa memberikan semangat untuk terus berpikir positif. karena, berpikir positif aja udah bisa bikin happy kok. ^^v

        1. Tapi itu emang lain Bil.. :P
          Sama-sama simple present tense tapi ada “to be” yaitu si “am” jadi ga perlu “do” lagi… Ahh sudahlah :mrgreen:

  5. Hahahaha… gue paling lucu pas awkward moment itu hehehe… Kayaknya bener dia tuh emang mau ngeledek penumpang yang tinggal call taxi company kalau mau kemana-mana.

    Happiness itu ada pada diri masing-masing sih, standard orang beda. Dan soal materi itu, cuma sebagian dari unsur yang bisa bikin happy. Buktinya, banyak orang super kaya, tapi ternyata miskin hati, dan pelit!! Ada orang yang happy dengan bisa makan telur atau daging tiap hari, ada juga yang mesti makan steak impor baru merasa happy. In the end, true happiness itu adalah, saat kita sudah tidak perlu mencari-cari lagi alasan2 absurd untuk justify our happiness, melainkan menggantinya dengan rasa SYUKUR yang luar biasa atas segala berkat yang dia kasih.

    1. Wuahh ada Leony komentar di sini! Makasih yaaa ^^
      Aku sampai mengulang dulu baca komentarnya.
      Iya kebahagiaan memang bukan dari material saja dan tiap orang ukurannya beda-beda :) Yang sekarang ini perlu aku prioritaskan untuk rapihkan sepertinya sih soal pengelolaan finansial (apalagi soal utang kartu kredit dan cicilan) supaya bisa lebih bebas dari beban pikiran ya… Lalu ya terus bersyukur.. Thanks for your comment and input ya :)

    1. Karena kebahagiaan orang itu akan berbeda-beda, aku cuma bisa bilang semoga kamu akan menemukan kebahagiaan kamu segera ya Pit. Keep faith, untuk segala sesuatu ada waktunya :) *puk puk*

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s