Cerita tentang Makaroni Panggang

Makaroni panggang resep rumahku sebenarnya tidaklah rumit. Kebanyakan bahannya adalah bahan instan yang mudah didapatkan di supermarket. Pasta jenis makaroni, daging olahan aka corned beef, keju cheddar, susu kalengan, dan telur. Semuanya bahan yang lumrah dipakai untuk membuat makaroni panggang. Proses pembuatannya pun sesederhana mencampur rata semua bahan itu, ditambah bumbu, lalu dipanggang. 

Img-20110831-00038

Kira-kira seperti ini nih foto jadinya satu loyang makaroni panggang resep rumahku.

Tapi di balik semua kelumrahannya, makaroni panggang resep rumahku itu spesial. Spesial karena random, karena acak, karena kerap tidak sama. Random, karena tidak butuh event khusus yang sedang dirayakan untuk menjadi alasan membuat makaroni panggang ini. Acak, karena kerap kali ada saja bahan yang harus diganti karena ketiadaan stock bahan tertentu di supermarket. Dan hasilnya, tentu masing-masing rasa makaroni panggang menjadi beda, tidak sama. Oh ya, biasanya juga bahan pengganti yang aku gunakan tidak ditakar. Cukup dikira-kira saja. Makin random kan makaroni panggangku?

Aku pernah membawakan makaroni panggang ini untuk seorang teman yang sedang sakit pilek, batuk, atau demam (sudah lupa sakitnya dia apa). Dia senang karena kubawakan makaroni panggang ini, tapi dia memakannya dengan diam-diam saja. Aku sampai protes, kok gak ada reaksi sih waktu makan makaroninya.. hiks. Dia bilang, yaahh soalnya semua makanan terasa hambar saat dia sakit..  -_- Benar juga sih. Aku jadi tak bisa protes lebih lanjut. Ya sudahlah..

Untungnya setelah itu, masih di kesempatan yang sama, datang dua teman lain yang begitu antusias mau mencicip makaroni panggang buatanku. Mereka sampai bela-belain datang meski sudah malam. Memang kami anak malam, kali ya, ngumpulnya sering kali menjelang jam tengah malam melulu. Reaksi mereka waktu mencoba makaroni panggangku? Luar biasa! Aku sampai diomel-omeli karena merusak rencana diet yang satu, dan dikeluhkan juga karena kok gak bisa berhenti pas lagi makan makaroni panggang itu. Hihihi.. aku senang. 

Dampak lebih lanjutnya? Kalau ketemu mereka, pasti aku ditanya, kapan dong bikin makaroni panggang lagi? Hahaha.. Aku sendiri cuma membuat makaroni panggang itu kalau sedang pulang ke rumahku di Bogor, karena peralatannya tersedia kalau di rumah saja. Sedangkan aku tidak setiap minggu juga pulang ke Bogor…

Pernah di lain waktu, aku membawa makaroni panggang itu ke kantor. Ada beberapa rekan yang beruntung mencoba mencicipi makaroni panggang itu. Kata mereka, makaroninya sangat penuh dosa. Maksudnya sih dosa lemak, kayaknya. Dan karena cuma kebagian sedikit, dosanya satu lagi ya karena ‘kurang banyak’. Hihi.. Pernah juga kubawa jadi bekal ke Bandung, dan dimakan dalam kondisi dingin. Rasanya kalau sudah dingin pun masih enak, apalagi kalau dipanaskan. Apalagi kalau kondisi baru masak dari panggangan… beuhhhh…

Jadi, apa sih moral ceritanya ini?

Aku cuma terpikir saja. Senang lho, bisa membuat orang lain senang. Tapi gak bisa juga sampai (selalu) mengorbankan diri sendiri demi kesenangan orang lain. Aku gak bisa pulang dan membuat makaroni tiap minggu.. ya mohon maklum. Setelah sempat tiga kali berturutan membuat makaroni itu, kok aku langsung jadi “kenyang” lho pas memikirkan memanggang makaroni itu lagi. Dan lagi. Dan lagi… *weww..

Bagaimana kalau aku dibayar untuk membuat makaroni itu? Kayaknya akan jadi beda deh. Beda dalam berbagai hal, termasuk rasa kesenanganku sendiri saat membuat makaroni panggang itu. Aku jadi terikat kewajiban membuat makaroni yang enak, yang konstan, yang pasti takarannya, yang tidak hancur dan patah-patah saat dibawa, yang warnanya bagus, yang kematangannya sempurna… Mmmm…

Ah, biarlah kondisinya berjalan seperti apa adanya sekarang ini dulu ya. 

Img-20110901-00046

Moga-moga kamu bisa beruntung mencoba makaroni panggangku kapan-kapan. 
Aku berharap kamu menyukainya :). Oh ya, kalau mau belajar membuatnya, yuk kapan-kapan. Kamu sumbang bahannya juga boleh lho.. hihi..

So, good night, now.. ^^

Advertisements

6 thoughts on “Cerita tentang Makaroni Panggang

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s