What Say You?

Hello

Ketika saya belum lama bekerja di dunia kerja kantoran, dan masih seorang karyawan lugu dan cupu, suatu hari saya mendapat email yang bikin agak kaget dan belakangan membuat saya merasa agak kampungan. Email itu dari seorang rekan kerja perempuan, ditujukan ke rekan lelaki di kantor lain, dan di cc pada saya.

Yang membuat agak kaget sih karena kalimat penutup yang dipakainya itu, kira-kira bunyinya semacam begini: Oke deh, ditunggu updatenya yah, thanks a lot, say. 

Say. Kependengan dari Sayang. 

Hehe, emang sayanya agak norak kali ya saya sampai kaget sendiri. Tapi ya harap maklum, ketika itu tu saya belum lama masuk dunia kerja kantoran yang banyak menggunakan email/media tertulis sebagai media komunikasinya. Sebelum itu saya bekerja agak lama di tempat yang lebih mengandalkan komunikasi lisan, dan dibantu dengan bahasa garis, sketsa dan gambar.

Makanya ketika menerima email itu, merasa agak takjub aja. Betapa mesra dan akrab (dan kok cuek) ya bahasa yang digunakan. Apakah mereka ada hubungan spesial? Ternyata tidak. 

Jujur, saya sempat mengira bahwa semua komunikasi via email harus menggunakan bahasa formal. Maklumnya, namanya juga anak baru. Dan ini pun ternyata tidak benar demikian, apalagi kalau sudah berupa email antar rekan sekantor sendiri. 

Seiring dengan waktu dan pengalaman kerja yang terus bertambah, saya mendapati ternyata sapaan model mesra begini lumrah dipakai. Tidak cuma dalam email, tapi juga merambah ke gaya percakapan sehari-hari, dan ada banyak sekali variannya (sekarang mulai pinter lah). 

Sebut saja ‘han’ aka “hon”, (maksudnya kependekan dari ‘Honey’ atau hun dari ‘Hunny’), ‘beb’ (ejaan disesuaikan, sumbernya dari  “babe” kayaknya ya) lalu ada juga ‘cin’ aka ‘cyiiinnn’ (kayaknya ini singkatan sekaligus terjemahan dari ‘luv’ aka ‘love’ deh), ‘dear’, ‘darling’, dan entah apa lagi. Silahkan ditambahkan kalau ada yah. 

Lalu, lalu, kenapa tiba-tiba saya mau menulis tentang ini nih? Well, sebenarnya gara-gara belum lama ini kembali di kantor saya mendengar lagi kata- kata ini dipakai, tepatnya secara lisan. “Hey, apa kabar kamu, say?” Wii.. senang dong ditanyain kabarnya seperti ini. Merasa spesial. Spesial pakai telor. Dengan sedikit modifikasi, pertanyaan basa-basi rupanya bisa membuat mood seharian jadi happy lho.

Jadi apakah kamu termasuk yang menerapkan gaya atau teknik ini? Terus terang, kalau lidah saya sih sepertinya masih kaku untuk ikutan mengucapkan kata-kata ini secara langsung. Tapi kalau untuk mendengar dan membaca penggunaannya sih sudah makin terbiasa. Mungkin saja juga membiasakan diri dengan gaya ini biar dianggap trendy dan tidak kampungan. Padahal ya kagok.. Hehehe..

Oh ya, sekarang baru teringat, pengen bilang apa di depan. Gini, sehambar apa pun pengucap sapaan di atas mengucapkan sapaan itu, kerasa gak sih, panggilan model gini mermbuat kita merasa makin spesial, don somehow bisa aja mengimprove mood kita? Tapi bisa aja juga sih jadi bumerang. 

Bayangkan begini. Kamu baru saja tiba di kantor dan mendadak disapa, “Hey, apakabar say? Sehat-sehat?”

Gimana gak bikin hati ini berbunga-bunga, coba? Cumaaa yaaa.. Perlu menerima kenyataan, kalau kemudian waktu, on another occasion, tiba-tiba denger aja si pengucap itu mengucapkan hal yang sama kepada orang lain. Gak 100% sama tapi mirip lah. 

“How are you darl? Everything’s fine?”

Ermm.. Ooohh.. *dengan muka lempeng dan bibir monyong. 

Ooh ternyata bukan saya saja toh yang spesial.. *ilustrasi pelengkap, bayangkan gambar boneka bersayap lucu mengawang-awang di sekitar kepala.. pas menguping kata-kata itu untuk orang lain, ya bak sayapnya dicabut.. Gubrak! Jatuh lah mood indah tadi ke permukaan tanah. Kembali memijak tanah. Realita. 

So, what about you? Apa kamu juga sering memakai sapaan seperti di atas? Apakah itu sapaan “say”? “cyin”? “beb”? “han”? “dear”? “luv”? “bebe”?

Hehe, tiba-tiba kepikiran saja, mungkin dari pilihan penggunaan sapaan model begini, bisa diterjemahkan, seperti apa sih karakter kamu. Mungkin lho ya, sepertinya perlu dicari lagi referensi untuk mendukung pemikiran ini, hihihi.. Moga-moga saja nanti ada analisanya, siapa tahu kata tertentu menyiratkan bahwa kamu narsis, atau jangan-jangan butuh kasih sayang (eeuwww.. jleb deh), atau.. apa lah..

Anyway lagi, meskipun fana dan sementara, fake dan gak ever lasting, ternyata sapaan seperti ini bisa saja memberikan dampak positif buat orang di sekitar kita. Membuat orang merasa lebih diperhatikan, dan merasa lebih spesial (padahal ya belum tentu, hahaha..)

Jadi, suka menyapa dengan sapaan yang mana?

So, what say you?

*ps, gambar diambil dari sini
Advertisements

2 thoughts on “What Say You?

  1. wah… pengalaman tidak terlalu beda di jaman dulu…suka menyapa seperti apa?kalo saia yang seperti biasa saja….sapaan seperti itu mungkin di jaman dulu saia berlaku….kalo di sapa say… ya… tinggal jawab… ada apa say juga….hehehe….merasa spesial…sesekali iya… sesekali tidak…

  2. Awesome content you post here! You can earn some extra $$$
    from your visitors, don’t miss this opportunity, for more info simply search in google – omgerido monetize website

Feel free to leave your comment!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s